Tuesday, 3 March 2015

Cerpen Kisahku di Awal Ramadhan

Hari pertama ramadhan tahun ini (2009) baru saja dimulai, terasa ada sesuatu yang berbeda apabila dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain. Ketika bulan suci ini dibentangkan bagi umat Muslim diseluruh dunia, serentak suasana rindu – pun mendekap dengannya dan mengendap dalam relung hati. Hati yang dipenuhi dengan kebahagiaan dan kegembiraan yang memuncak dalam dekapan bulan yang dipenuhi dengan keberkahan dan keistimewaan.

Sedikit lucu, apabila ku ingat hari pertama mamasuki bulan ramadhan tahun ini. Ketika malam pertama dibulan ini, yaitu malam pertama untuk melaksanakan sholat sunnah tarawih. Sebagaimana biasanya, sholat sunnah tarawih dilakasanakan dimasjid secara bejama’ah. Sholat sunnah tarawih dilaksanakan tergantung dengan kebiasaan dan ketentuan dimasing-masing tempat, maksudnya untuk jumlah raka’atnya.

Ada disebagian tempat melaksanakan sholat sunnah tarawih dengan jumlah 23 raka’at lansung dilanjutkan dengan witir, dengan pelaksanaan 2 raka’at satu kali salam untuk tarawih dan 2 kali salam untuk witir, dengan pelaksanaan 2 raka’at salam pertama dan 1 raka’at salam kedua. Adapula dengan jumlah 8 raka’at, cara pelaksanaannya sebagian dengan 2 raka’at satu kali salam dengan witir 3 raka’at langsung satu kali salam dan 4 raka’at satu kali salam dengan 3raka’at langsung salam.

Malam pertama aku melaksankan sholat tarawih dimasjid al-Ikhlas desa Riding Panjang Kecamatan Merawang Bangka. Kebetulan dimasjid tersebut melaksanakan tarwih dengan jumlah 23 raka’at langsung dengan witir.

Pada awalnya memang telah tertanam pada diriku untuk sholat tarwaih cukup mengikuti imam hanya sampai delapan raka’at dengan witir dilaksanakan sendiri, jika dimasjid yang melaksanakan tarawih delapan raka’at aku ikuti sampai selesai, tuntas dengan witirnya. Setelah rak’at kedelapan tiba, maka aku bergegas keluar dari masjid dan langsung pulang kerumah. Sesampai dirumah, aku tidak langsung masuk kedalam rumah, melainkan mampir ke konter HP milik abang ipar ku, yang berada didepan rumah mertuaku, kebetulan yang jaga konternya adalah istriku.

Aku langsung masuk kedalam konter tersebut, dengan sedikit perbincangan kecil dengan istriku. Tidak terasakan waktu telah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Sepulang dari masjid aku berniat melaksanakan witir dirumah, akan tetapi sampai pukul 21.00 WIB, belum terlintas sedikitpun dalam benakku terfikirkan bahwa aku belum melaksanakan sholat witir. Kemudian aku dan istriku masuk kedalam rumah langsung menuju kamar tidur. Sedikit senda gurau menemani hingga kami tertidur. Pukul 03.00 WIB alarm berbunyi, kamipun terbangun.

Waktu sahur tiba, tetapi belum juga teringat olehku kalau aku belum melaksanakan witir. Kami langsung makan sahur, hanya istriku yang tidak ikut sahur karena datang bulan (hait). Waktu subuh tiba, aku langsung melaksanakan sholat subuh. Setelah usai sholat subuh, baru aku teringat bahwa dari semalaman aku belum melaksanakan witir. Ah … sudahlah, inikan bukan disengaja, lagian inikan sunnah. Kalau bukan karena lupa mana mungkin aku meninggalkannya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 WIB, aku dan istriku harus bersiap-siap untuk pulang ketempat kontrakan kami di Sungailiat, sekaligus harus bekerja sebagaimana aktivitas keseharian. Sesampai dikontrakan, hanya sekita 10 menit kami kami langsung berangkat menuju tempat intriku kerja, yaitu di Islmic Centre. Setelah sampai, aku langsung memutar arah kendaraanku dan bergegas kembali menuju kontrakan kami.

Akupun sampai, dan langsung masuk kedalam untuk istirahat. Kurang lebih pukul 09.00 pagi, aku berangkat menuju tempat kerjaku di SD Negeri 11 Sungailiat, tepatnya di Lubuk Keli Parit Padang. Aku ke sana untuk menyelesaikan Laporan Bulanan Agustus 2008 untuk tingkat SD/MI dan pengumpulannya paling lambat tanggal 5 dalam setiap bulanya setelah sekian lama aku menulis laporan tersebut, sejenak aku berdiri. Sedikit rasa haus menggerakkan langkah kakiku menuju tempat air minum gelas kemasan, yang kebetulan didalamnya ada sekantong permen KISS. Tidak terbayangkan dalam benakku kalau hari itu adalah hari pertama berpuasa ditahun ini. Aku langsung membuka kantong permen tersebut, tanpa ada keganjilan dan kejanggalan permen tersebut aku masukkan kedalam mulutku.

demi hisapan terus ku lakukan, tiba-tiba baru teringat olehku bahwa aku sedang berpuasa. Maka seketika itu pula aku langsung mengeluarkan permen tersebut dari mulutku dan aku langsung berkumur-kumur untuk menghilangkan rasa manis permen tersebut dari mulutku. Setelah itu, kembali aku lanjutkan menyelesaikan laporan tersebut. Akhirnya selesailah sudah laporan tersebut.
Dalam benakku, mungkin hal ini terjadi padaku karena belum terbiasa. Maklum baru hari pertama berpuasa, seolah-olah rasanya seperti hari-hari biasa. Semoga jadi pelajaran dan renungan!

-END-

Sungailiat, Agustus 2008

Cerpen ini merupakan karangan dari Nayrus El Rayyan. Diambil dari cerpenmu.com yang dipublish pada tanggal 30 mei 2012.

Monday, 2 March 2015

cerpen Tenggelamnya Sekoci Yin Gelama

Langit merah mulai memenuhi ufuk Barat, kicau burung-pun mulai tak terdengar lagi. Gemuruh ombak kian teratur. Angin bertiup sepoi-sepoi. Seisi alam mulai mengakhiri aktivitasnya.
Dari kejauhan terlihat bayangan samara-samar sebuah sekoci akan memasuki kuala. Perlahan tetapi pasti ia kian mendekat. Seketika itu pula meriam pertanda datangnya kapal memasuki kuala dibunyikan. Tummmm… dentuman meriam telah dibunyikan. Sekoci-pun mulai menelusuri aliran sungai, berjalan perlahan karena sungainya tidak begitu luas.
Suasana kian mengelitik telinga, serangga-serangga sungai berbunyi saling bergantian, sahut-menyahut. Bagaikan berada dalam sebuah keramaian, yang memecahkan kesunyian. Sang nahkoda terus memusatkan pandangan ke depan. Tak menghiraukan keramaian serangga-serangga sungai tengah bergembira, karena seharian menahan diri.
Tiba-tiba dari bilik tirai pondokan sekoci terdengar suara merdu memecah kebisingan suara serangga-serangga sungai yang sedari tadi terus berbunyi. Dialah Yin Galama, putri Kho Ho. Yin Galama ini bukan Yin Galema dalam novel karya Ian Sancin. Dia hanyalah putri seorang pedagang Tiongkok yang membawa barang-barang seperti; keramik, mangkok Cina dan lain sebagainya. Barang-barang tersebut ia datangkan lansung dari negerinya. Pelayaran sekoci Kho Ho melintasi Laut Natuna diperairan Muntok hingga masuk ke wilayah laut Metibak Peradong.
Suara merdu dari putri Kho Ho kian memukau. Sang nahkoda jadi semangat memainkan baling-baling setir sekoci, meski gelap malam kian mencekam. Sejenak suara merdu itu terhenti, dan terdengar sebuah sebuah pertanyaan dari Yin (panggilan Yin Galama).
“Pa, kita di mana sekarang?”
Kho Ho pun menjawab pertanyaan putrinya.
“Kita sekarang ada di aliran Sungai Peradong.”
Kemudian Yin kembali bertanya pada Papanya.
“Sungai Peradong ini masuk wilayah kawasan mana Pa?”
“Sungai ini masuk wilayah kawasan bagian Muntok.”
Setelah mengerti, Yin pun terdiam. Batinnya bertanya-tanya mengapa Papnya membawa barang-barang tersebut ke Peradong.
Malam semakin gelap, serangga-serangga sungai satu persatu mulai menghentikan suaranya. Yin pun masuk ke dalam bilik pondokan sekoci. Dalam bilik ia merenung, ada apa gerangan di kampong Peradong, sampai-sampai Papanya membawa barang-barang demikian ke sana.
Di tengah redupnya suara bising serangga-serangga sungai, nahkoda menyuarakan pada seisi sekoci bahwa sebentar lagi akan tiba di pelabuhan pekal Peradong. Pelabuhan ini tidak sama halnya dengan pelabuhan-pelabuhan lainnya, karena pelabuhan pekal Peradong hanyalah pelabuhan yang kecil, yang lebih cocok dinamai dengan tambatan perahu. Namun, demikianlah adanya pelabuhan pekal Peradong.
Sedikit bahagia dihati Yin, walaupun perasaan dihantui dengan rasa penasaran terhadap kampong yang dituju.
Tiba-tiba, nahkoda berteriak kaget, seisi sekoci menjadi terkejut, ada apa gerangan nahkoda berteriak…?? Ternyata seekor buaya besar lewat di depan muka sekoci. Kini, keterkejutan itu telah sirna. Tapi, tiba-tiba… gradakkkk…. seperti ada sesuatu yang menabrak, sekoci jadi bergoyang ke kriri dan ke kanan. Nahkoda jadi panik, ia merasakan ada sesuatu yang berbeda pada sekoci yang dinahkodainya. Ternyata, buntut belakang sekoci mengalami kebocoran. Seisi sekoci jadi berhamburan, rasa ketakutan menghantui hati mereka.
Air telah masuk ke dalam sekoci setengah mata kaki orang dewasa, sekoci tetap berjalan hingga tiba di tikungan sungai. Sesampai di tikungan sungai, air telah setengah badan sekoci. Seisi sekoci meloncat ke luar.
Perlahan tapi pasti, sekoci mulai tenggelam. Harapan Kho Ho pun ikut tenggelam, karena barang-barangnya ikut tenggelam bersama sekoci. Mereka pun berenang menuju tepian sungai, termasuk Yin. Sesampai di tepi sungai, mereka memanjat pohon-pohon yang ada. Dengan tubuh kedinginan mereka mendekap di pohon-pohon menanti malam berganti siang dengan harapan yang pupus.
Kampong Peradong yang dituju belum kesampaian, siang yang dinanti pun masih lama. Sunguh malang nasib Yin Galama, karena sekoci Kho Ho tengelam seiring dengan larutnya malam.
-END-
Sekoci : kapal kecil
Kuala : muara (pertemuan antara air laut dengan air sungai)
Pekal : pangkal
Cerpen ini merupakan karangan dari Nayrus El Rayyan. Diambil dari cerpenmu.com yang dipublish pada tanggal 30 mei 2012.

Cerpen Bintang

Dia, duduk di samping jendela, dibawah sinar lampu yang temaram. Mencoba memandang langit yang gelap, hanya ada rembulan yang memantulkan sebagian dari cahaya matahari. Tak ada bintang yang terlihat, semua bersembunyi dibalik awan, barangkali malu untuk kulihat, katanya dalam hati seraya tersenyum. 
Angin malam berhembus sepoi-sepoi, seolah menghembuskan udara pada wajahnya yang lembut. Awan bergerak perlahan, memberikan seni tersendiri di kegelapan malam. Ahh, ternyata ada satu bintang di balik awan, senyumnya tersungging di balik bibirnya yang mungil. Ya Rabb, ternyata setitik cahaya pun bisa memberikan keindahan yang luar biasa diantara luasnya langit yang gelap di malam hari. Ah, seandainya ketika membuka jendela, memandang langit dan tak menemukan bintang kemudian dia tak mencoba menatap awan tapi menutup jendela kembali, dia tak akan menemukan bintang yang tersembunyi di balik awan.
***
Seperti setitik bintang di kegelapan malam, terkadang kita tak menyadari ada cahaya kecil dalam malam yang gelap, yang kita berinama “bintang”. Betapa indahnya cahaya itu walaupun tak bisa menerangi malam. Tapi, lain halnya ketika kita melihat ada setitik noda di atas kain putih yang membentang. Kita justru terfokus pada noda yang kecil, dan seolah lupa betapa bersihnya kain itu terlepas dari setitik noda yang ada, yang mungkin bisa hilang hanya dengan sedikit detergent pemutih. Itulah hidup, kadang-kadang kita lupa untuk memandang sesuatu dari sisi lain yang dimiliki.
Saya, memiliki seorang murid yang saya pikir kecerdasannya kurang menonjol dibanding lainnya. Suatu hari, ketika kami tengah membicarakan sistem tata surya, hanya sebagai pengetahuan bahwa bumi merupakan salah satu planet dalam sistem tata surya yang menjadi tempat tinggal manusia, murid saya itu, sebut saja namanya Rimba, tiba-tiba berdiri dan mengambil helm milik guru lain yang disimpan diatas loker dalam ruang kelas serta memakainya. 
Tanpa saya sadari saya berkata kepadanya :”Wah,,,teman-teman, lihat!! Rimba memakai helm, seperti astronot yang mau terbang ke bulan ya…”. Semua teman-temannya memandang ke arahnya, dia tersenyum, spontan helmnya langsung di lepas dan dikembalikan ke tempat semula, tanpa harus disuruh untuk mengembalikan. Kemudian saya ajak mereka untuk menggambar roket di atas kertas putih yang tersedia. Dan hasilnya, Subhanallah, murid yang saya pikir kecerdasannya kurang menonjol itu justru tahapan menggambarnya dua tingkat lebih tinggi dibanding murid yang saya pikir paling pandai di kelas.
Seandainya saja saya memberikan reaksi yang lain seperti :”Rimba, silakan dikembalikan helmnya karena sekarang saatnya kita belajar”, atau :”Maaf, silakan dikembalikan helmnya karena Rimba belum minta ijin bu guru”, atau yang lainya, mungkin saya tidak akan pernah tahu bahwa kecerdasan dia sudah lebih dari apa yang saya sangka karena pembahasan hari itu bukan tentang astronot atau roket. Atau barangkali saya membutuhkan lebih dari satu kalimat perintah untuk membuatnya mengembalikan helm ke tempat semula.
Reaksi berbeda yang kita berikan ketika kita memandang bintang di kegelapan malam atau setitik noda di selembar kain putih ternyata akan memberikan hasil yang berbeda pula. Hidup ini indah, cobalah kita memandang sesuatu dari sisi yang lain, maka yang tampak bukan hanya sekedar 2 dimensi. Bukankah lebih seru ketika kita melihat film 3 dimensi???
-END-
Cerpen ini merupakan karangan dari Wijayanti dan Blog pribadinya 12warna.blogspot.comDiambil dari cerpenmu.com yang dipublish pada tanggal 16 Juli 2012.

Cerpen Pahit

Pahit benar kalau dirasa baik-baik. Tidak ada rasa yang sebaik ini jika kita hanya berdiam diri. Renung-renung malam sepi dalam untaian nada tak bersuara hanya merintih, menangis, sedih, luka bagai terkulai lemas. Aku dan jiwaku terpaku dalam nada-nada yang tak bisa di ungkapkan kata demi kata, bait demi bait, dan alur demi alur. Cerita panjang yang akhirnya kandas dalam perjuangan sesaat.
Melawan taqdir adalah hal yang paling tidak mungkin dilakukan oleh seorang manusia tidak berdaya seperti kita, mengubah arang menjadi api, mengubah debu menjadi asap, mengubah angin menjadi hujan, mengubah air mata menjadi tawa. Semua itu adalah hal-hal tersulit yang tak dapat di tembus akal manusia seperti kita, berjuang untuk hidup atau berjuang untuk berkuasa.
Hari yang satu dengan hari yang lain telah berlalu dalam mutiara pujangga harahab, melantunkan berkat demi keindahan sesaat, membawa pahit duka nestapa yang begitu mendalam. Merubah alur menjadi jalan panjang yang tak berketentuan arah. Berontaklah, anestesia! Berontaklah! dalam dawai yang tersendak dari dulu mati. 
Bergumam dalam nyanyian arwah yang tak pernah terdengar dan terasa dari hati setiap manusia yang mati. Aku dan perjalanan hidupku kini mulai melarikana diri dalam hutan-hutan cemoohan, huta-hutan hinaan, hutan-hutan makian dan perulangan yang tak dapat dipungkiri baik atau buruknya.
Aku dalam aku kian makin marak bertanya dalam dengki dan dendam. Mengubah kata maaf menjadi bencana panjang. Aku tak sanggup membawa semua beban yang terkulai lebar sendiri, membawa lari darah yang membawaku dalam ajal kematian.
Tapi, kini kesadaranku mulai nyata adanya, bahwa aku dalam hidup ini harus yakin akan merpati putih yang baik dan penuh tanya, memaafkan semua, membuatnya menjadi indah pada waktunya.
Berlarilah dengan mulia dalam hidup yang penuh dusta nestapa, berlarilah dengan membawa kehancuran yang tak kunjung datang. Yakinilah semua berubah dengan indah dan nikmat, penuh rasa, penuh suka cita, baik cepat atau lambat, kelak dunia akan membuktikan kebenaran mutlak yang tak terelakan.
-END-
Cerpen ini merupakan karangan dari Rashyid. Diambil dari cerpenmu.com yang dipublish pada tanggal 30 mei 2012.

Cerpen Rania

Aku masih di sini. Bersama dengan Rania di sudut kantin sekolah. Tampak sekali sekitar kami sudah sepi. Yang memastikan bahwa hampir semua siswa SMA Pramudya Aksara sudah pulang ke rumah.

“Aku tak bisa, Dai.”

Itu adalah ucapan Rania yang sudah dikatakannya lebih dari lima kali sepanjang kami berbincang sejak bel pulang berbunyi tadi.

Kenapa? aku membatin.

“Kenapa?” aku bertanya hati-hati.

Kuamati lagi gadis yang duduk gelisah di hadapanku ini. Tak mengerti dengan jalan pikirannya yang selalu berbelit-belit.

Apa sebenarnya dasar logis yang dimiliki Rania sehingga ia menolak kedatangan cinta yang sudah lama diharapkannya?
“Aku tahu kamu sangat mencintainya, Rania. Terlampau mencintai, malah. Jadi apa alasannya kamu menolaknya? dia sudah datang untukmu!”

Hampir-hampir saja aku tak bisa menahan amarahku. Syukurlah ada angin yang berhembus melewati kami dan membuat kekesalanku sedikit berkurang.

Duh.. Rania sungguh keras kepala! umpatku dalam diam.

“Aku… Aku tak bisa, Dai.. Dan kamu tahu sebabnya kenapa.”

Ah… Aku terhenyak ketika kudapati buliran kristal cair itu luruh dari kedua mata Rania.
Ia menangis…

Habis sudah keberanianku untuk mendesak Rania yang keras kepala. Aku pun menunduk memandangi es kelapa di gelas Rania yang tinggal setengahnya. Memikirkan apa yang seharusnya kuucapkan lagi agar Rania merasa lebih baik. Rania mungkin saja benar. Dengan mengatakan bahwa aku tahu sebab dari pilihannya itu. Kenapa ia menolak kedatangan Bri dan malah memilih untuk menjauh darinya. Kukira sebabnya adalah karena Rania merasa ia tak berhak untuk memiliki kebersamaan dengan Bri..

Bri sudah memiliki Syifa. Dan Rania tak ingin merusak keharmonisan Bri dan keluarga barunya.. Dan lagi,, ada neneknya yang tinggal seorang diri di rumah mendiang ayahnya. Bagaimana mungkin Rania tega meninggalkannya sendiri? Akhirnya, Rania pun memilih menolak permintaan Bri yang mengajaknya tinggal bersama. Aku tahu, Rania mencoba untuk mengalah (lagi). tapi tetap saja…

“Dai,, aku tak apa-apa. Aku akan baik-baik saja.”

Rania tersenyum lemah. Mendengarnya berkata begitu, masih tak cukup meyakinkan diriku bahwa ia dalam keadaan baik-baik saja. Aku tahu hatinya pasti sedih sekali. Tapi apa yang bisa kulakukan lagi untuknya? aku hanya sahabat yang hanya bisa mendengarkan. Tak bisa lebih dari itu!
Akhirnya aku pasrah. Biarlah Rania dengan keputusannya itu. Hanya saja kuharap, ia
bisa kembali ceria seperti Rania yang kukenal dulu.
^_^
“Rania…”
Aku terkejut ketika mendapati Bri yang tengah berjalan ke arah kami. Rania spontan menoleh ke belakang. Butuh beberapa detik untuknya sebelum ia bisa menyahut panggilan Bri kepadanya.

“Ibu…”

Bri tersenyum lembut mendengar suara Rania. Sedikit ayunan angin di jilbab putihnya membuat Bri tampak cantik sekali. Sementara di sampingnya, Syifa berjalan perlahan mengikuti Bri dan menatapku.
Aku diam. Tiba-tiba saja merasa tak pantas berada di sini. Tapi aku tak bisa kemanamana
dikarenakan Rania tadi segera memegang ku erat-erat. Akhirnya kuputuskan untuk diam saja.

“Pulanglah bersama ibu, nak. ayo.”

Rania tampak akan menangis lagi. Kali itu, Bri sudah duduk di sampingnya. Tangan kirinya masih memegang tangan Syifa agar tak pergi kemana-mana. Dan Syifa masih menatapku penasaran. Aku masih tetap memilih diam.

“Rania pulang ke rumah nenek saja, bu.. Tak apa-apa.”

Bri tersenyum sebentar sebelum akhirnya kembali bicara,
“Maafkan ibu, Nia. Maafkan ibu karena sudah meninggalkanmu bersama ayah. Maafkan ibu karena lebih memilih islam dibandingkan kalian, keluarga yang juga sangat ibu cintai. …” 

Bri berhenti berucap. Terlihat matanya mulai memanas dan berkaca-kaca. Lalu, lanjutnya lagi..
“Tapi… ibu tak pernah menyesal dengan keputusan ibu lima tahun lalu itu, nak.. Yang ibu
sesalkan adalah ibu tak bisa membawamu serta bersama ibu. Saat itu ayah tak mengizinkan
ibu untuk membawamu.. Ia tak mau kamu meninggalkan cinta kepada Yesus.. Dan ibu tak
berdaya…”

Rania tak bisa menahan buliran air matanya. Ia menatap Bri dengan pandangan penuh cinta. Ia tahu pasti bagaimana kesusahan yang dialami ibunya ketika dulu memilih berpisah dari ayahnya. Ibunya jatuh cinta kepada Islam. Yang akhirnya membuat pernikahan mereka harus diakhiri. Meski mereka masih sama-sama mencintai..

“Tapi kini..” lanjut Bri berkata.
“Kini ayah sudah meninggal. Kamu bisa ikut dengan ibu, Nia.. Kita kembali bersama sebagai satu keluarga. Meski…” 

Bri melirik sekilas ke arah Syifa. Balita empat tahun itu tampak asyik
melihatku. Dan ini membuatku sedikit jengah.
” …Meski kini ibu sudah memiliki keluarga baru. Tapi ibu tetap mencintaimu, Rania..
Tinggallah dengan ibu.. ibu mohon…”

Bri pun tampak tak lagi bisa menahan airmatanya. Ibu dan anak itu saling menatap dengan tangisan di pipinya. Saling memandang. Mengharapkan satu sama lain untuk saling memiliki.
Sementara aku?
Hampir saja aku menangis. Tapi tidak! Aku tak bisa menangis… Aku masih bergumul dalam haru dan kediamanku saat ini.
“Ibu…” Rania akhirnya berucap juga.
“Rania sudah memaafkan ibu. Rania mengerti dengan pilihan ibu. Rania pun sangat mencintai ibu. Tapi…” Rania diam sejenak.
 “…Rania harus bersama nenek. kasihan nenek. ia hanya tinggal seorang diri.”

‘Hancur’ mungkin adalah kata yang tepat untuk menjelaskan hati Bri saat mendengar penuturan Rania itu. Sedikit banyaknya aku tahu, Bri berharap Rania, puterinya mau ikut tinggal bersamanya dan juga mau menerima Islam seperti dirinya.. Tapi apalah daya. Rania sudah sangat keras kepala (meneguhkan hatinya) untuk mengambil pilihan ini. Saat itu, Syifa masih menatapku penasaran. Tapi aku mengacuhkannya.

“Baiklah… Ibu mau menerima keputusanmu, nak.. Tapi ibu sangat berharap Nia kelak bisa tinggal bersama ibu.”

Rania melihat mendung dan kecewa itu di mata Bri. Kami sama-sama melihatnya. Aku tahu, Rania pasti merasa sangat bersedih juga dengan keputusannya ini. Sehingga sejenak kemudian, dalam tempo yang cukup lambat, ia kembali berkata.

“Meski Nia tidak tinggal bersama ibu…” Rania terdiam lagi dan terlihat seperti meneguhkan hatinya untuk bisa melanjutkan ucapannya.
“…Nia bersyukur karena Nia juga bisa jatuh cinta pada pilihan ibu lima tahun lalu.”
Bri terpana. Aku juga. Syifa tampak kebingungan menatap ke ibunya dan Rania.
“Alhamdulillah…” ucap syukur Bri saat memeluk Rania.
“Alhamdulillah…” ucap Rania untuk semua kebaikan yang dialaminya di hari itu.

Aku terharu. Aku berharap bisa menangis bersama ibu dan anak itu. Mensyukuri lahirnya keimanan baru yang merengkuh kehidupan baru Rania. Merubah segalanya jadi indah pada akhirnya. Tapi lagi-lagi aku hanya bisa diam.

“Kak Rania..” Suara mungil Syifa terdengar lembut. Bri dan Rania melepas pelukannya dan beralih melihat Syifa.

“Boneka beruangnya lucu. Namanya siapa? Buat Syifa ya?”

Aku beralih menatap Rania. Ia tersenyum mengangguk dan kemudian berkata dengan senyum penuh di wajahnya. Membuatku tak kuasa menahan senyumku juga..
“Namanya Dai… Dan kamu bisa memilikinya. Dai adalah sahabat yang sangat baik. Mama Britani yang kasih Dai buat kakak..”

Aku tersenyum.. Kubagi pula senyuman itu untuk ketiga orang perempuan di hadapanku. Perlahan Rania melepas pegangan tangannya dariku dan tiba-tiba saja aku sudah ada dalam pelukan tangan mungil Syifa.

Saat itu,, kurasakan bahagia yang tak ada kiranya.
Dan aku tahu pasti, ini semua disebabkan oleh satu hal.
Cinta Keluarga.

^_^…
>>>sedikit quote tambahan dariku: mom’s love always around u. (senyum lagi ah…)^_^.
(ini semua tentangmu, “ibu”)…
-END-

Cerpen ini merupakan karangan dari Azzura LiaDiambil dari cerpenmu.com yang dipublish pada tanggal 29 mei 2012.

Cerpen Ada Apa Denganku

Pagi itu langit hitam kelam. Angin membelai masuk melewati jendela kosan 3x4m, Matahari malas keluar, dia terus bersembunyi di balik awan gelap. Seperti halnya aku yang masih bersembunyi di balik selimut tebal peninggalan nenek yang sangat bau yang aku sangat suka. Hari ini adalah hari Kamis, hari terakhir dalam seminggu aku berkuliah. Sungguh malas kuliah pagi ini, ditambah “tamu” yang setiap bulan datang membuat perutku merasa tidak nyaman dan menambah semangatku untuk tidak kuliah. Dan setiap aku teingat raut muka kedua orang tuaku perasaan itu sedikit hilang, ya, hanya sedikit.
Berjalan menyusuri gang-gang sempit yang setiap hari aku lalui ini sungguh memuakkan, ditambah dengan keringat orang-orang pasar yang membuat aku semakin muak dengan keadaanku sendiri. Sengaja aku lewat gang pasar karena hanya gang pasar akses tercepat yang menghubungkan kosanku dengan kampus. Bertemu dengan orangorang apatis yang sangat tidak peduli dengan orang lain. Masyarakat kota yang individualis. Berbeda sekali dengan kampungku, kampung cinta damai. Dimana hanya ada satu dua orang yang sedikit individualis dan itupun bukan penduduk asli kampung, orang kota yang punya segudang bisinis di desa. Benar kata Frankie, petani mencari kerja di kota, orang kota mencari kekayaan di desa. Sesaat menerawang jauh ke kampungku tiba-tiba saja ada sepeda motor yang hendak menubrukku dari depan yang kemudian menyadarkanku bahwa inilah kota.
“Goblok, jalan gak liat-liat, pake mata dong”, bapak berkumis tebal itu memarahiku. Sepertinya dia tergesa-gesa sekali hendak mengantarkan barang dagangannya. Hanya mampu menghela nafas panjang, terlalu banyak umpatan yang ditujukan kepadaku, tapi kali ini adalah murni salahku. Dengan wajah memelas aku hendak meminta maaf dan sebelum kuucapkan kata maafku orang tua itu sudah enyah dari hadapanku. Mungkin sudah peringaiku untuk selalu berlaku lemah lembut akan tetapi di sini, di kota yang belum pernah aku kunjungi sebelum aku dinyatakan lolos SNMPTN, mereka selalu menyebutnya dengan lelet. Sakit hati iya, tapi lama kelamaan aku sudah bebal dengan ejekan tersebut.
Kursi depan selalu penuh setiap kali aku datang, entah jalanku terlalu lambat atau mereka yang datang terlalu dini. Aku selalu menempati bangku paling belakang di kelas. Ada sesuatu yang tidak membuat aku nyaman berada di antara mahasiswa baru ini. Aku jarang sekali mengerti kuliah yang diberikan dosen, dan aku benci ini. Dengan belajar keras pun IP ku hanya mencapai 2,89. Dosen menurutku layaknya sales yang menawarkan produknya yang aku sama sekali tidak berminat dengan produk yang ditawarkannya. Jujur, tidak ada niatan sedikitpun berkuliah jurusan teknik. Dulu aku bercita-cita ingin jadi sastra, tapi Tuhan berkata lain. Katanya Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Dan faktanya sampai saat ini semester 2 aku masih belum bisa menerima keadaan ini.
“I’, nanti kita ngerjain tugas kelompok di rumah Gita ya, awas kalau sampai pulang”, ancam Vina salah seorang temanku yang sangat membenci keleletanku. Mereka memanggilku Ai’, nama lengkapku Aina Fitri. Entah apa filosofi dari namaku, setiap kali aku tanya orang tuaku, mereka menjawab dulu waktu lahir bapakku lihat ada model pakaian yang cantik bernama Aina dan karena aku lahir pada hari raya Idul Fitri makanya mereka menambahkan kata Fitri di belakang.
“Emangnya tugas dikumpulin kapan? bukannya masih 2 minggu lagi ya? gimana kalau besok Senin aja? aku pengen pulang kampung, hampir tiga bulan aku belum pulang”, tawarku dengan lagi-lagi wajah memelas. Wajah memelasku sering membuat luluh orang dan inilah andalanku.
“Yahh, padahal aku pengen cepet selese, ya udah lah aku juga mau main, salam buat orang rumah ya”, meski kadang benci padaku tapi Vina adalah teman yang baik. Dia kadang merasa kasihan dengan keadaanku. Aku juga heran kenapa dia kasihan padaku. Alasannya cukup simpel, katanya aku lugu, mudah dibohongi juga, kalau semua orang ingin memanfaatkan keluguanku setidaknya ada satu orang yang tidak akan memanfaatkan keluguanku dan dia bilang orangnya adalah dia sendiri.
Kereta berangkat pukul 14.00. Kereta ekonomi yang baunya nggak karuan adalah transportasi yang biasa aku gunakan untuk mengobati rasa rinduku untuk pulang ke kampung halaman. Alhamdulillah aku berada di samping ibu-ibu dan depanku bapak-bapak. Sepertinya mereka orang-orang baik. Ketika tahu bahwa aku adalah seorang mahasiswa, bapak-bapak di depanku terus menasehatiku,”Sekolah yang bener, Nak, kasihan orang tua yang membiayai, gak usah pacaran-pacaran dulu, nanti kalau sudah jodoh pasti Tuhan akan mempertemukan kamu dengan pasangan yang tepat”. 
Aku hanya mengangguk-angguk sambil sesekali mengiyakan. “Tuhan itu Maha Adil, laki-laki baik-baik hanya untuk wanita yang baik-baik, begitu juga sebaliknya, jadi kamu tidak usah takut kamu besok dapat lelaki yang tidak baik, kalau kamu adalah wanita baik insya Allah kamu pasti dapat lelaki yang baik pula”, lanjut pak tua yang tepat duduk di depanku. Walaupun agamaku masih sangat cetek, tapi aku tahu dalam Islam tidak ada yang namanya pacaran. Sangat disayangkan remaja sekarang banyak yang melakukan aktivitas pacaran. Dan yang lebih sangat disayangkan, aku sering melihat mahasiswa perempuan dengan kain yang menutupi kepalanya bergandengan tangan dengan lawan jenis yang jelas-jelas bukan mahramnya. 
Tak tahulah apa yang ada dipikiran mereka. Mungkin mereka tidak kasihan dengan orang tua yang membiayai sekolah mereka. Mungkin juga orang tua mereka kaya raya jadi tak perlu lah merasa kasihan kepada orang tua. Tapi bukankah kedua orang tua akan lebih senang seandainya anak yang mereka bangga-banggakan itu berada pada jalan yang diridhoi Allah. Sebenarnya aku tidak berhak berbicara seperti ini, agamaku saja masih awut-awutan. Lihat kerudungku, layak dibilang kelambu. Rambutku terlihat dari luar, sempat aku berpikir untuk membenahi cara berkerudungku tapi ibuku bilang ibu tidak suka anaknya terlalu fanatik dengan agama. Padahal jelas-jelas aku tahu bahwa fanatik itu perlu. Aku memang bukan lahir dari keluarga yang agamis, ibuku pun jarang menutupi auratnya seperti apa yang diperintahkan Allah untuk membalut tubuh dengan pakaian taqwa. Jika ada pengajian atau berita lelayu saja ibu memakai kerudung. Sedang bapakku adalah sesosok bapak yang otoriter yang ilmu agamanya sangat minim sekali. Lahir dari keluarga militer membuat bapakku dididik layaknya seorang prajurit. Setelah kakek nenekku meninggal, bapakku menjadi orang yang paling disegani di keluarga meski bapak adalah anak bungsu dari keluarganya tapi anak-anak budhe paling takut sama bapakku.
Tak terasa 6 jam sudah berlalu, akhirnya sampai juga aku di stasiun Tugu Yogyakarta, aku lahir di Kali Kotak, sebuah desa terpencil di daerah Sleman. Bapak sudah menjemputku lengkap dengan atribut layaknya tukang ojek kebanyakan. Bapakku memang lahir dari keluarga berada tapi naasnya kakekku suka main perempuan, tak teruruslah keluarga bapakku. Meski kakek seorang tentara berpangkat kapten tapi anaknya tak ada yang meneruskan sekolah hingga ke bangku SMA, hanya budheku saja yang hampir menamatkan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) sayangnya kakekku keburu tergoda wanita lain dan hancurlah rumah tangga kakek nenekku.
“Kamu belum makan to? ini bapak beliin bakmi goreng Pak Yanto”, kami memang dari keluarga sederhana tapi bapak selalu menomorsatukan anak, apalagi masalah makanan. Tak ayal tubuhku tambun.
“Emang ibu ndak masak, Pak? kan sayang buang-buang uang”, aku mencoba untuk menyadarkan bapak kalau kami adalah keluarga pas-pasan.
“Sudahlah, kamu cuma bapak suruh makan aja susah”, bapak memang selalu tak memberiku ruang untuk berpendapat. Dari keempat anak bapak, akulah yang paling disayang dan aku juga yang paling sering membuat bapak murka.
Rumah sepi kala aku membuka pintu seraya mengucapkan salam. Rupanya ibu sedang pengajian di Mushola kampung. Mandi kemudian makan bakmi goreng kesukaanku. Dengan mulut penuh dengan makanan dari tepung itu aku bercerita tentang kuliahku yang membosankan, teman-teman yang selalu menertawakanku seolah-olah aku adalah bahan lelucon mereka, dan cerita tentang ospek yang tak kunjung usai.
Seharian penuh aku lalui dengan melepas rindu pada rumah dan seluruh isinya. Sore hari biasanya kami sekeluarga kumpul di ruang tengah, mendiskusikan apa saja yang ringan-ringan hingga waktu maghrib tiba kami mengantri kamar mandi untuk berwudlu kecuali bapakku. Tidak lupa aku mengingatkan bapak untuk sholat walaupun aku tahu kalau bapak pasti tidak akan mau. Ini yang membuat aku pilu, selalu pilu. Berbagai macam cara aku ajak bapakku untuk sholat tapi masih saja beliau enggan. Mulai dari sindiran halus sampai tidak halus sekalipun tak mempan. Sampai pernah suatu hari bapak marah padaku karena aku terlalu memaksa untuk sholat. Setiap tahajud aku selalu berdoa kepada Allah supaya Allah mau membuka hati bapakku.
***
“Bu, aku pengen merubah penampilanku, aku pengen pakai kerudung besar tapi aku malu orang-orang menertawakanku. Nanti dikiranya aku sok alim”,rengekku pada ibu yang tengah menjahit kain.
Ibu menghentikan jahitannya,”Kenapa harus malu untuk menjadi lebih baik? Ibu juga ingin sehari-hari menutup kepala ibu seperti yang kamu inginkan, Nduk”. Kaget bercampur haru, aku memeluk ibu erat. Air mataku menetes, langsung kuseka, aku tidak ingin ibu tahu kalau anak perempuannya sudah pandai menangis lagi. Karena dewasa ini aku memang jarang menangis kecuali menonton film India. Ibu melepaskan pelukanku, pergi ke kamarnya dan memanggilku,”Kamu pengen paki rok kan, Nduk? Ibu punya banyak, bawalah dua dulu. Nanti kalau kamu pulang kampung lagi ibu belikan rok lagi”, sekali lagi kupeluk ibu.
***
Malam sepertinya cepat sekali, ternyata tadi siang ibu menjahit kerudung untukku, kerudung yang tidak seperti kelambu. Kerudung yang menutupi mahkotaku. Dengan rok hitam milik ibu dan setelan putih milik kakakku nomer satu yang sekarang sudah bekerja di pabrik rokok. Kucium pipi dan tangan ibu, seperti enggan untuk melepaskannya tapi waktulah yang mengharuskan semuanya berjalan dengan cepat. Ternyata bapak tidak jadi mengantarku dengan alasan yang rumit daan sulit aku cerna. Setelah kucium tangan bapakku aku diantar Lek Karyo menggunakan motor bututnya. Malam ini aku berjanji aku harus menjadi diri yang baru, aku tidak mampu untuk menyia-nyiakan tanggung jawab yang diberikan orang tuaku. Aku terlalu sayang kepada kedua orang tuaku. 
Akan kukubur dalam-dalam mimpiku untuk menjadi sastrawan. Jika belajar keras pun tak akan mengubah IP ku maka aku akan belajar dengan temanku yang pandai. Setidaknya aku akan membuka sedikit diriku, aku yakin mereka adalah orang baik, hanya logat bicaranya saja yang “sedikit” kasar bagiku. Perjalanan pulang penuh dengan wajah teduh ibu,”Tuhan, jaga wanita itu. Sungguh, aku rela jika harus menumpahkan darahku untuk kebahagiaan wanita itu”, doaku dalam hati yang kemudian aku amini sendiri. Bagaimana dengan bapakku? Entahlah, aku hanya terus berdoa semoga Allah membukakan hati bapakku. Benci iya, tapi sayang sangat. Dan rasa benciku tertutupi oleh sayangku yang teramat dalam.
Pagi buta aku sampai di Surabaya, kota tempat yang indah ketika aku merasakan bahwa disinilah aku akan mendeklarasikan diri menjadi anak yang berbakti dan bertanggung jawab kepada kedua orang tuaku. Kosan masih sepi, anak-anak sepertinya belum semua yang balik ke kosan. Setelah mandi kubaringkan sejenak badanku sebelum harus berangkat untuk mengejar harapan. Ganti pakaian dengan baju “baru” kebanggaanku. Melangkah dengan gontai diiringi senyuman setiap melewati orang yang melihat ke arahku. Gang pasar itu berubah layaknya red carpet yang dengan bangganya aku berjalan melewati gang itu. Ternyata bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur tapi bersyukurlah yang membuat kita bahagia.
Kutunaikan maghribku di mushola dekat kos yang berjarak tak lebih dari satu jengkal, kosanku memang bersebelahan dengan mushola. Sesudah sholat kuputuskan untuk pulang. Belum sempat kulepas mukenaku ponsel monochrome ku bordering.

“Assalamu’alaikum, Nduk” suara yang selalu aku rindukan .
“Wa’alaikumsalam, apa apa Bu?”
“Sampai Surabaya jam berapa? Kok ndak kasih kabar rumah?”
“Pukul 05.00, aku kira Ibu sudah tahu kalau aku sampai sini puku 05.00”
“Ya sudah, itu ndak penting, Ibu punya berita bagus. Bapakmu mau sholat, Nduk”
Kaget bercampur haru membuat tangisku pecah seketika. Lama aku tak bicara membuat ibu kebingungan.
“Nduk…Nduk…kamu kenapa? Jangan-jangan kamu tidur ya?”, ibu terus kebingungan,”Owalah, ditelepon orang tua kok malah ditinggal tidur, yowes jangan lupa belajar, jangan tidur terus, ndak maju-maju nanti kamu, Nduk”
Nut..nut..nut..nut..
-END-

Cerpen ini merupakan karangan dari Tiara Widodo. Diambil dari cerpenmu.com yang dipublish pada tanggal 22 mei 2012.