pengarang : Lola Febrianti
Rintik hujan
turun dengan deras dari langit disertai dengan hembusan angin dingin yang
menusuk tulang. Seandainya sepulang sekolah tadi aku langsung pulang dan tidak
ke toko buku, mungkin aku tidak akan terjebak hujan di halte ini. Kulihat
arloji ku menunjukan pukul 17.40. Sudah lebih dari setengah jam aku menunggu
bis di halte ini tapi tak kunjung datang. Sedangkan hujan semakin deras.
“Kau sedang
apa ??” Suara itu mengagetkan ku. Aku pun menoleh, Seorang pria berkaca mata
dengan Jaket Merah dan payung kuning ditangannya. Setiap pulang dan pergi
sekolah aku selalu menunggu bis di halte ini tapi aku tidak pernah melihat dia.
“Kenapa diam
??” Lanjut pria itu lagi.. “Huh,maaf..aku hanya bingung, padahal aku selalu
menunggu bis di halte ini, tapi kenapa aku baru melihatmu sekarang??” jawabku. Pria
itu hanya diam dan melihat kearah jalan. Bis yang kutunggu datang, aku pun
naik. Aku pikir pria itu juga akan naik bis tapi dia tidak bergerak sama sekali
dari tempatnya. Dari jendela bis aku memandanginya “Ternyata dia manis
juga.Sebenarnya dia siapa ?? Apa aku akan bertemu dengannya lagi ??” batinku.
***
Bel pulang sekolah berbunyi, langit
tampak mendung sepertinya akan turun hujan lagi, kubuka lokerku untuk mengambil
payung. “Ahh..sial” gerutuku, ternyata aku lupa membawa payung. Aku pun
bergegas menuju halte dan berharap semoga hujan tidak akan turun sebelum aku
sampai di halte. Tapi sialnya harapanku sirna. Baru setengah perjalanan, hujan
turun dengan derasnya. Aku bingung, apakah aku kembali ke sekolah atau terus
berjalan ke halte, sedangkan hujan bertambah deras. “Kau ingin mandi hujan ??”
suara itu terdengar tidak asing bagiku, ternyata benar !! Dia laki-laki payung kuning
kemarin. “Ternyata dia benar-benar manis” ujarku dalam hati. “Mau
kehalte lagi ? kebetulan aku juga kearah
sana. Hanya ada satu payung, mau pergi bersama ??”ajak laki-laki itu. Aku hanya
menangguk tanda setuju. Selama menuju halte kami tidak mengeluarkan sepatah
kata pun. Jantungku berdebar tak karuan dan hatiku terasa begitu hangat ketika
bersamanya. Sesampainya dihalte, bis yang kutunggu juga datang aku pun langsung
naik, ketika di pintu bis aku teringat jika belum berterimakasih. Tetapi ketika
aku menoleh ternyata dia sudah pergi ,hanya payung kuningnya yang terlihat
“Cepat sekali dia pergi. Astagaa..aku lupa menanyakan siapa namanya..Aaakkhh”.
***
Jam sekolah sudah selesai, aku pun
keluar dari kelas. Aku memandangi langit, langit tampak cerah dengan sedikit
awan. Tidak ada tanda hujan akan turun. Aku pun pergi menuju halte. Sesampainya
disana, aku melihat sekeliling, ternyata pria itu benar-benar tidak ada.“Sepertinya
kau salah perkiraan,sore ini tidak turun hujan. Payung ini jadi sia-sia saja. Tapi
kenapa aku terasa sepi ya ?? apa karena kamu tidak ada sore ini ??”.
Keesokan harinya aku berharap
bertemu dengan laki-laki itu lagi di halte, tapi ketika pagi hari aku tidak
bertemu dengannya. Aku pikir mungkin pulang sekolah nanti aku akan berjumpa
dengannya. Ketika bel pulang sekolah berbunyi aku langsung keluar dengan
bersemangat, berharap semoga bertemu dengan dia. Tapi, sesampainya di halte
ternyata dia tidak ada juga. Aku sengaja menunggu dia, tapi ternyata dia tidak
kunjung datang.
***
Sudah seminggu lebih aku tidak
melihat wajahnya. Ntah mengapa aku sangat merindukannya. Aku ingin sekali
melihat wajahnya lagi. Aku duduk di kursi halte sambil menatap payung kuning
yang dulu ia pinjamkan “Sebenarnya kemana pemilik kamu ? Bukankah dia
meminjamkanmu kepada ku,aku harus mengembalikanmu..Aahh..aku rindu dengan pemilikmu”
sepertinya aku sudah gila sehingga mengajak payung kuning itu berbicara. Walaupun
sedang tidak hujan, aku membuka payung kuning itu. Lalu jatuh sebuah foto. Foto
2 orang laki-laki yang sangat mirip, dibalik foto tersebut terdapat sebuah
pesan, aku pun membaca nya “Dear Vaness. Aku melihat nama di seragam sekolah
mu. Setelah bertemu denganmu, wajahmu selalu terbayang dipikiranku. Aku selalu
ingin bertemu denganmu dan melihat senyumm, tapi sepertinya itu akan sulit. Gambar
yang ada difoto itu adalah aku dan kembaranku.. Aku ingin menemanimu disaat
hujan seperti saat itu, tapi itu tidak bisa lagi. Jadi mulai sekarang
kembaranku yang akan menemanimu. Aku tidak tau apa kau merindukanku atau tidak,
tapi jika kau merindukanku tampunglah air hujan ditanganmu, anggaplah hujan itu
adalah diriku. Karena hujanlah yang mempertemukan kita. Salam manis untukmu
Vaness. By Nicky”. Tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di depan halte
lalu keluarlah seorang laki-laki. “Aku lihat kamu sudah membaca pesan itu, Aku
Nicko kembaran pemilik payung itu, Nicky. Apa kau selalu menunggu pemilik
payung itu ??” Aku hanya mengangguk, sebenarnya aku bingung apa yang terjadi.
“Mulai sekarang kamu tidak perlu menunggu dia lagi, dia sudah meninggalkan
dunia ini dan anggaplah dia sebagai hujan yang selalu menyejukkan harimu” Aku
terdiam dan menatap payung kuning itu. Awalnya aku tidak ingin percaya, tapi
setelah mendengar penjelasan Nicko Jelaslah sudah, ternyata orang yang selama
ini aku nantikan, ternyata telah tiada.







0 comments:
Post a Comment