Saturday, 6 December 2014

Cerpen Hujan dan Payung Kuning

pengarang : Lola Febrianti

Rintik hujan turun dengan deras dari langit disertai dengan hembusan angin dingin yang menusuk tulang. Seandainya sepulang sekolah tadi aku langsung pulang dan tidak ke toko buku, mungkin aku tidak akan terjebak hujan di halte ini. Kulihat arloji ku menunjukan pukul 17.40. Sudah lebih dari setengah jam aku menunggu bis di halte ini tapi tak kunjung datang. Sedangkan hujan semakin deras.
“Kau sedang apa ??” Suara itu mengagetkan ku. Aku pun menoleh, Seorang pria berkaca mata dengan Jaket Merah dan payung kuning ditangannya. Setiap pulang dan pergi sekolah aku selalu menunggu bis di halte ini tapi aku tidak pernah melihat dia.
“Kenapa diam ??” Lanjut pria itu lagi.. “Huh,maaf..aku hanya bingung, padahal aku selalu menunggu bis di halte ini, tapi kenapa aku baru melihatmu sekarang??” jawabku. Pria itu hanya diam dan melihat kearah jalan. Bis yang kutunggu datang, aku pun naik. Aku pikir pria itu juga akan naik bis tapi dia tidak bergerak sama sekali dari tempatnya. Dari jendela bis aku memandanginya “Ternyata dia manis juga.Sebenarnya dia siapa ?? Apa aku akan bertemu dengannya lagi ??” batinku.

***
Bel pulang sekolah berbunyi, langit tampak mendung sepertinya akan turun hujan lagi, kubuka lokerku untuk mengambil payung. “Ahh..sial” gerutuku, ternyata aku lupa membawa payung. Aku pun bergegas menuju halte dan berharap semoga hujan tidak akan turun sebelum aku sampai di halte. Tapi sialnya harapanku sirna. Baru setengah perjalanan, hujan turun dengan derasnya. Aku bingung, apakah aku kembali ke sekolah atau terus berjalan ke halte, sedangkan hujan bertambah deras. “Kau ingin mandi hujan ??” suara itu terdengar tidak asing bagiku, ternyata benar !! Dia laki-laki payung kuning kemarin. “Ternyata dia benar-benar manis” ujarku dalam hati. “Mau kehalte lagi ?  kebetulan aku juga kearah sana. Hanya ada satu payung, mau pergi bersama ??”ajak laki-laki itu. Aku hanya menangguk tanda setuju. Selama menuju halte kami tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Jantungku berdebar tak karuan dan hatiku terasa begitu hangat ketika bersamanya. Sesampainya dihalte, bis yang kutunggu juga datang aku pun langsung naik, ketika di pintu bis aku teringat jika belum berterimakasih. Tetapi ketika aku menoleh ternyata dia sudah pergi ,hanya payung kuningnya yang terlihat “Cepat sekali dia pergi. Astagaa..aku lupa menanyakan siapa namanya..Aaakkhh”.

Keesokan harinya aku pergi kesekolah, ketika turun dari bis ternyata laki-laki itu sudah ada disana “Kali ini aku harus tau siapa namanya” batinku. Aku pun turun dan hendak menyapanya tapi belum sempat aku bersuara dia menatap ku dan tersenyum “Mungkin hari ini akan hujan lagi, ini aku pinjamkan payung ku” Laki-laki itu memberikanku payung kuningnya. “Mungkin sore nanti aku tidak bisa mengantarmu, jadi kamu pakai ini sendiri ya” Laki-laki itu tersenyum lalu pergi. Aku menatap payung yang ia berikan “Sebenarnya apa yang dia maksud ?? Bukankah aku tidak pernah menyuruhnya mengantarku,lalu kenapa dia berkata seperti itu ? Aneh..Astaga,aku lupa menanyakan namanya lagi..Aahh..bodoh..bodoh..”
 
***
Jam sekolah sudah selesai, aku pun keluar dari kelas. Aku memandangi langit, langit tampak cerah dengan sedikit awan. Tidak ada tanda hujan akan turun. Aku pun pergi menuju halte. Sesampainya disana, aku melihat sekeliling, ternyata pria itu benar-benar tidak ada.“Sepertinya kau salah perkiraan,sore ini tidak turun hujan. Payung ini jadi sia-sia saja. Tapi kenapa aku terasa sepi ya ?? apa karena kamu tidak ada sore ini ??”.
Keesokan harinya aku berharap bertemu dengan laki-laki itu lagi di halte, tapi ketika pagi hari aku tidak bertemu dengannya. Aku pikir mungkin pulang sekolah nanti aku akan berjumpa dengannya. Ketika bel pulang sekolah berbunyi aku langsung keluar dengan bersemangat, berharap semoga bertemu dengan dia. Tapi, sesampainya di halte ternyata dia tidak ada juga. Aku sengaja menunggu dia, tapi ternyata dia tidak kunjung datang.

***
Sudah seminggu lebih aku tidak melihat wajahnya. Ntah mengapa aku sangat merindukannya. Aku ingin sekali melihat wajahnya lagi. Aku duduk di kursi halte sambil menatap payung kuning yang dulu ia pinjamkan Sebenarnya kemana pemilik kamu ? Bukankah dia meminjamkanmu kepada ku,aku harus mengembalikanmu..Aahh..aku rindu dengan pemilikmu” sepertinya aku sudah gila sehingga mengajak payung kuning itu berbicara. Walaupun sedang tidak hujan, aku membuka payung kuning itu. Lalu jatuh sebuah foto. Foto 2 orang laki-laki yang sangat mirip, dibalik foto tersebut terdapat sebuah pesan, aku pun membaca nya “Dear Vaness. Aku melihat nama di seragam sekolah mu. Setelah bertemu denganmu, wajahmu selalu terbayang dipikiranku. Aku selalu ingin bertemu denganmu dan melihat senyumm, tapi sepertinya itu akan sulit. Gambar yang ada difoto itu adalah aku dan kembaranku.. Aku ingin menemanimu disaat hujan seperti saat itu, tapi itu tidak bisa lagi. Jadi mulai sekarang kembaranku yang akan menemanimu. Aku tidak tau apa kau merindukanku atau tidak, tapi jika kau merindukanku tampunglah air hujan ditanganmu, anggaplah hujan itu adalah diriku. Karena hujanlah yang mempertemukan kita. Salam manis untukmu Vaness. By Nicky”. Tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di depan halte lalu keluarlah seorang laki-laki. “Aku lihat kamu sudah membaca pesan itu, Aku Nicko kembaran pemilik payung itu, Nicky. Apa kau selalu menunggu pemilik payung itu ??” Aku hanya mengangguk, sebenarnya aku bingung apa yang terjadi. “Mulai sekarang kamu tidak perlu menunggu dia lagi, dia sudah meninggalkan dunia ini dan anggaplah dia sebagai hujan yang selalu menyejukkan harimu” Aku terdiam dan menatap payung kuning itu. Awalnya aku tidak ingin percaya, tapi setelah mendengar penjelasan Nicko Jelaslah sudah, ternyata orang yang selama ini aku nantikan, ternyata telah tiada.
Categories:

0 comments:

Post a Comment