Thursday, 11 December 2014

Cerpen Hujan dan Payung Kuning PART 2


pengarang : Lola Febrianti

"Namanya Vaness Raini, matanya bulat seperti bulan, senyumnya indah seperti Pelangi, dan suaranya menyejukkan seperti hujan. Mungkin dia menungguku dihalte yang lalu untuk mengembalikan payung kuning yang aku pinjamkan, jika dia membuka payung itu,didalamnya ada foto kita berdua dan ada pesan dibelakang foto itu. Aku yakin dia pasti membacanya. Nicko, aku ingin kamu menjaganya jika aku pergi nanti. 
Buatlah Vaness selalu tersenyum" Itulah kata-kata terakhir Nicky yang ia sampaikan pada Nicko.

***
            “Vaness,ayo ikut aku !” Tanpa memberikanku kesempatan untuk berbicara, Nicko menarik tanganku lalu membukakan pintu mobilnya. Aku pun masuk,aku lihat ada bingkisan Mawar Putih dikursi belakang. “Kita mau pergi kemana ?” Tanyaku, tapi Nicko hanya tersenyum tanpa jawaban. Mobil pun berhenti didepan sebuah gerbang. Kami pun turun dan masuk ke gerbang tersebut. Hamparan rumput hijau berhias batu nisan menyambut kedatangan Kami. Nicko menarik tanganku lalu berhenti disebuah Nisan. “ini makam Nicky ?”. “Iya, kamu tidak keberatan kan aku bawa kesini ?” tanya Nicko, Aku menggelengkan kepalaku sambil tersenyum. Nicko meletakkan Mawar Putih di nisan Nicky. “Nicky sangat menyukai Mawar Putih” ujar Nicko tapi aku tidak menghiraukannya, aku hanya menatap batu nisan itu dengan tatapan sedih. “Sebenarnya apa yang kamu rasakan terhadap Nicky ?” Tanya Nicko. “Apa aku harus menjawabnya ?” . “Terserah”jawab Nicko . “Aku juga tidak tau apa yang aku rasakan, Aku dan dia hanya bertemu beberapa hari dan kami juga tidak saling kenal saat itu, tapi aku merasa kehilangan dirinya” Jawabku sambil mengelus batu Nisan Nicky . “Sebelum Nicky meninggal, ia menyuruhku untuk menjagamu” . “Lalu ?”tanyaku. Nicko menatap ku “Izinkan aku untuk menjalankan pesan dari Nicky”. “Kamu tidak perlu menatapku seperti itu, tanpa kamu katakan. Aku sudah menganggapmu sebagai teman” jawabku disertai dengan senyuman. “Aku akan berusaha membuatmu selalu tersenyum. Jika kamu bahagia, Nicky pasti juga Bahagia disana” . “Aamiin” 
***
            Menit demi menit, Jam demi Jam, Hari demi Hari kami lewati bersama. Canda Tawa, keriangan, senyum Bahagia selalu terukir diantara kami. Bagaikan hidup tanpa beban kami jalani bersama. Awalnya aku merasa kehilangan seorang Nicky, tapi Nicko menghapus rasa sedih itu secara perlahan. Nicko mengajakku jalan-jalan dengan sepeda. Lalu kami berhenti disebuah padang ilalang yang tingginya hampir sama dengan tubuhku. “Ayo..!!” Ajak Nicko. “Ayo kemana ?” tanyaku heran. “Masuk kedalam ilalang itu” aku terkejut, sebenarnya apa yang Nicko maksudkan, aku pun menolak ajakannya tapi dia menarik tangannku masuk ke padang ilalang itu. “Nicko, kamu mau apa ? Kamu jangan macam-macam” Nicko tidak menghiraukan perkataanku “Nicko, badanku sakit semua terkena ilalang ini” Nicko menatapku, tanpa mengatakan apa-apa dia menutup mata dan mulutku dengan tangannya.Aku benar-benar takut saat itu. Tak lama kemudian Nicko membuka mata dan Mulutku.Aku benar-benar ingin menghajar Nicko karena perlakuannya itu. Tapi semua itu urung aku lakukan ketika melihat yang ada di depan ku “Subhannallah” Hanya kata itu yang bisa aku ucapkan ketika melihat pemandangan yang benar-benar indah dihadapanku. Sebuah Danau yang jernih, dikelilingi oleh bunga-bunga yang sangat indah dengan warna-warna yang bermacam, Kupu-kupu dan capung berterbangan dengan damainya. Aku tidak pernah melihat pemandangan seindah itu sebelumnya. “Bagaimana ? Apakah ini indah ?” Tanya Nicko. Aku memeluknya lalu air mata jatuh dipipiku. “Loh,kamu kenapa menangis ?” . “Aku benar-benar kagum dengan Tuhan, ia menciptakan tempat seindah ini. Keindahan ini benar-benar membuatku terharu” jawabku. “Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa kesabaran pasti akan berujung dengan indah”. “Maksud kamu ?”. “Ilalang yang kita lewati tadi ibaratkan ujian hidup, ilalang itu membuat badan kita sakit, begitu juga dengan ujian hidup. Tapi jika kita bersabar melewati nya, maka keindahan seperti inilah yang akan kita dapatkan, bagaikan kado dari tuhan”. Aku tersentuh mendengar perkataan Nicko “Tuhan,terimakasih engkau sudah mengirimkanku seorang malaikat kebahagiaan untukku”.
            Memandangi senja dipinggir danau dengan bunga-bunga yang indah ditemani kupu-kupu dan para capung benar-benar membuat hatiku damai. Nicko mengeluarkan gitar dari tas gitarnya yang memang ia bawa. “Mau mendengarkan lagu ?” Tanya Nicko . “Tentu !!” . “Mau lagu apa ?” Tanya Nicko lagi . “Terserah kamu” . “Baiklah” Nicko pun mulai memainkan gitarnya.

“Seanggun warna senja menyapa
Bersambut musim yang dijalani
Semegah bintang penuh harapan
Mencoba 'tuk terangi
Dalam gelapnya malam

Ungkapanku untuknya
Untuk seorang wanita
Yang kupuja dan kupuji
Takkan kurasa jenuh
Dirinya di hatiku
Reff:
Parasnya sungguh indah sekali
Menggugah rasa tuk ingin
Selalu bersamanya
Senyumnya menggetarkan jiwaku
Meresap indah dalam alunan
Syair laguku”

            Lagu yang dibawakan Nicko membuatku merasa istimewa. “Dia benar-benar pandai mengambil hati wanita.Sepertinya hatiku pun sudah jatuh cinta padanya” Batinku. “Bagaimana ? Kamu suka ?” Tanya Nicko . “Aku sangat suka”.
***
            “Sepertinya aku harus mengatakannya” Ujar batin Nicko. Nicko pun mencari nomor Vaness dan menelponnya “Aku tunggu kamu didanau” Nicko pun mematikan telponnya. Jam menunjukkan pukul 08.13 “Kenapa pagi-pagi seperti ini ??” ujarku dalam hati. Tapi Aku tidak ingin membuat Nicko menunggu lama, aku membuka lemari pakaianku dan memilih pakaian yang terbaik untuk bertemu dengan Nicko.

Setelah selesai aku segera pergi ke danau. Huh,aku harus melewati ilalang-ilalang ini lagigerutuku, tapi aku ingat kata-kata Nicko untuk senantiasa bersabar. “Demi kamu Nicko !!” Aku pun masuk kepadang ilalang itu. Aku takut tersesat tapi syukurlah itu tidak terjadi. Setelah sampai di danau aku melihat Nicko sedang duduk dibawah pohon yang rindang dengan earphone yang terpasang ditelinganya. Aku ingin mengejutkannya jadi aku berjalan dengan mengendap-endap agar dia tidak menyadari kehadiranku. “Kamu pasti akan terkejut” Aku mengangkat tanganku untuk menepuk bahunya, tapi belum sempat aku lakukan dia malah menoleh kebelakang. “Kamu sedang apa ?” Tanya Nicko yang heran melihat gelagapku. “Kamu kenapa menoleh,padahal aku ingin mengejutkanmu” jawabku sambil duduk disampingnya. “Benarkah ? Kalau begitu lakukanlah sekali lagi maka aku akan pura-pura tidak tau”. “Mana bisa begitu, itu bukan mengejutkan namanya”. Kami pun tertawa bersama. Seharian itu kami habiskan seperti biasa dengan canda tawa dan kebahagiaan tanpa rasa lelah, hingga kami menyadari senja sudah datang. “Terimakasih untuk kebahagiaan hari ini Nicko” ujarku sambil melemparkan batu kedanau. “Sebenarnya ada yang ingin aku berikan padamu” jawab Nicko . “Apa ?” tanyaku penasaran. Nicko pun memberikanku sebuah bingkisan berbentuk persegi panjang. Aku pun membuka bingkisan itu..Bingkisan itu adalah sebuah Lukisan. Aku tertegun melihat lukisan itu, suasana hujan dan ada seorang wanita dan pria dibawah payung kuning sedang berdiri di halte. “Bagaimana ? Kamu suka ?”. “Apa kamu yang melukis ini ?” tanyaku “Itu adalah lukisan yang dibuat Nicky. Tapi belum sempat ia menyelesaikan lukisan ini, dia sudah pergi. Jadi separuhnya aku yang menyelesaikan” jelas Nicko. “Itu adalah gambaran pertemuan kalian” lanjut Nicko. Aku mengelus lukisan itu “Walau wajah kalian sama, tapi bukan berarti aku bisa menganggapmu sebagai Nicky” . “Kau merindukan Nicky ?” Tanya Nicko. Aku hanya menangguk, tanpa aku sadari aku meneteskan air mata. Nicko memelukku dengan hangat. Aku pun melampiaskan kerinduanku dengan menangis dipelukannya. “Nicko, kamu jangan tinggalkan aku. Aku tidak yakin jika aku masih bisa tertawa bahagia jika tidak ada kamu” ucap ku sambil menangis. Nicko menyeka air mata dipipiku. “Apa kamu ingat perkataanku tentang kesabaran ?” Tanya Nicko. Aku mengangguk. “Kamu harus bersabar” lanjut Nicko. “Bersabar untuk apa ?” tanyaku. “Bersabar untuk menjalani hidup” . “Tentu saja aku akan bersabar,karena katamu kesabaran akan berujung dengan keindahan. Aku benar-benar menyayangaimu. Hatiku telah jatuh cinta padamu Nicko” ujarku. “Aku akan pindah ke Amerika”. Perkataan Nicko bagaikan petir disiang hari. Tapi aku tidak mempercayai itu. “Kamu ini,suasana sedang haru seperti ini kau malah bercanda”. Nicko mengambil selembar kertas dari saku celananya, dia memperlihatkan kertas itu padaku. Itu adalah tiket penerbangan ke Amerika. “Maafkan aku Vaness. Aku mengingkari perkataanku dan juga janjiku pada Nicky”. Aku melepaskan pelukan Nicko “Ka..kamu serius ?” . “Orang tua ku pindah tugas kesana,jadi aku harus ikut”.
Aku tidak bisa menahan air mataku mendengar perkataan Nicko. Bagaimana bisa ia melakukan itu. Aku tidak bisa membendung airmataku,airmataku pun tumpah dalam tangisan. Nicko menggenggam tanganku dan berusaha menenangkan diriku. “Bagaimana mungkin kamu pergi meninggalkanku setelah aku mengungkapkan perasaanku padamu” aku memberontak berusaha melepaskan genggaman Nicko. “Vaness dengarkan aku !!” teriak Nicko, aku pun terdiam. “Apa kamu pikir aku bisa meninggalkanmu dan kenangan-kenangan yang kita buat ? Jika aku bisa menolak ini, aku akan menolaknya. Tapi aku tidak bisa Vaness !!” Untuk pertama kalinya aku melihat Nicko meneteskan air matanya. Nicko memelukku “Aku ingin kamu tau,aku juga sangat mencintaimu Vaness” Aku terdiam mendengar perkataan Nicko. Kenapa ? Kenapa harus seperti ini? kenapa Tuhan memisahkan aku dengan orang-orang yang kusayangi. Apa maksudnya ? Aku bisa menerima kehilangan Nicky karena ada kamu yang menggantikan posisinya. Tapi kini,kenapa kamu harus meninggalkanku juga ? Ini tidak adil untukku” Aku menangis tersedu-sedu dalam pelukan Nicko. “Bukankah sudah ku bilang, kamu harus bersabar dalam menjalani hidup ini. Jika kita memang ditakdirkan bersama, maka kita akan bersatu kembali. Yakinlah Vaness” Ucap Nicko.

***

Sebulan sudah Nicko pergi meninggalkan Indonesia. Meninggalkanku dan kenangan-kenangan indah yang telah kami buat. Aku berkunjung kemakam Nicky, aku meletakkan Mawar Putih kesukaannya di batu nisan.
“Apa kabar Nicky ? Lihat ini, aku membawa payung kuningmu, apa kamu merindukan payung ini ? Kamu ingat tidak saat pertama kali kita bertemu ? Hujan, Halte dan payung ini menjadi saksi pertemuan kita. Aku sangat merindukan pemilik payung ini dan kembarannya”.
            
Mungkin memang bukan takdirku untuk bisa bersama diantara kalian. Awalnya aku sangka Tuhan tidak adil denganku. Tapi, aku sadar Tuhan ingin melatihku menjadi wanita yang kuat, sabar dan tegar dalam menjalani Hidup ini. Aku tidak akan melupakan kalian. Kenangan-kenangan indah di masa lalu adalah tempat yang paling indah untuk dikunjung. Tapi aku sadar, itu bukanlah sebuah tempat yg bagus untuk ditinggali. Aku akan membuka lembaran baruku. Terimakasih Nicky, Terimakasih Nicko. Sudah hadir dihidupku.” 

-THE END-
Categories:

0 comments:

Post a Comment