pengarang : Tiara Widodo
Bekali-kali kulihat layar ponsel dan layar itu tak menunjukkan
tanda-tanda akan berbunyi. Sudah kurang lebih satu bulan dia tak
menghubungiku. Dia yang selalu mengejar cintaku, dia yang selalu
mengirimkan kata-kata indah, dan dia yang rela tak berstatus demi
mendapatkanku. Sekarang aku adalah gadis 17 tahun dan dia menyukaiku
sejak kami masih berseragam putih biru. Ya, sekolah menengah pertama.
Aku tak tahu kapan percisnya yang jelas kala itu aku tak pernah
menanggapi responnya. Malah aku selalu meledeknya dengan salah seorang
sahabatku yang menyukainya. Dan yang membuatku heran adalah dia tak
pernah marah ataupun membalasku, hanya tersenyum memandangku sebentar
kemudian pergi. Memang dia tak pernah mengungkapkan kalau dia
mencintaiku tapi aku tahu dari caranya yang tak biasa menatapku.
Kelulusan yang kami tunggu-tunggu akhirnya tiba dan ini saatnya aku
dan dia harus berpisah, aku mendapatkan sekolah terbaik di kotaku sedang
dia hanya bersekolah di sekolah yang baru saja selesai dibangun.
Prinsipku adalah lebih baik menjadi orang bodoh di kalangan orang pintar
daripada harus menjadi orang pintar di antara orang biasa-biasa saja.
Dan benar saja, karena SMP kami adalah SMP terpandang jadilah dia ikut
dalam segala keorganisasian di sekolahnya. Sedang aku just ordinary girl
yang yaaa mungkin bisa dibilang pelengkap penderitaan.
Perlahan tapi pasti, pupuk-pupuk itu menumbuhkan tanaman yang bernama
cinta tanpa aku sadari. Hubungan kami tak pernah putus karena dia
selalu mengirim pesan-pesan singkat. Saat itu kami berumur 15 tahun. Dan
semenjak kelulusan itu untuk pertama kalinya kami bertemu. Awalnya agak
kagok juga tapi lama kelamaan pembicaraan mengalir begitu saja,“Kapan
aku bisa jadi pacarmu? Aku capek gini terus, aku nggak bisa nolak
cewek-cewek yang suka sama aku tanpa alasan yang jelas”.
“Terima aja, gampang kan”, jawabku pendek.
Kulihat dia menghembuskan nafas panjang, menata hati kemudian
berbicara lagi,”Aku memang gak pernah bisa ngerti kamu. Hatimu tak
pernah bisa kutebak. Mengertilah aku sedikit”.
“Ribet banget sih, yang penting kita udah saling tahu kalo kita cinta
satu sama lain”, kali ini nadaku agak meninggi. Terus terang aku gak
suka komitmen, aku gak suka status. “Aku pengen langsung nikah, aku
pengen nikah muda, lulus kuliah langsung nikah”, lanjutku.
“Tapi kita kan masih SMA, kuliah masih lama. Dan aku gak mau buru buru nikah, terlalu muda, Din”
“Kalo kamu gak mau juga gak apa, aku mau cari laki-laki matang yang berpikiran dewasa yang bisa ngemong aku”.
Dan itu menjadi sebuah awal yang buruk dari hubungan kami. Meski dia
masih terus menghubungiku. Hipokrit sebenarnya bila aku menolaknya,
karena aku pun mulai mencintainya. Mencintai cara dia mencintaiku.
“Apa? Jadi dari lahir lo belum pernah pacaran? Gilee, tahan banget.
Adek gue aja ni yang masih SD udah pacaran tiga kali”, gelak tawa Lita,
teman dekatku, membuatku agak tersinggung juga. Gimana enggak, masak aku
disamain sama adeknya yang masih SD. Sedang aku udah SMA. Kata mama si
aku gak jelek-jelek amat. Mungkin nasib yang belum memihak kepadaku.
Mungkin juga aku terlalu baik untuk sekadar mendapatkan teman-temanku
yang kucel dan dekil yang kerjaannya cuma belajar dan belajar. Dia, dia
pasti mau jadi pacarku. Daripada diledek Lita terus mending aku segera
berubah status. Tapi gak mungkin, aku kan udah bertekad gak mau
berkomitmen sama dia. Dia yang dari tadi aku ceritakan bernama Doni,
sengaja tak kusebut namanya setiap kali kuceritakan karena dialah yang
akhir-akhir ini membuat aku galau. Sudah sebulan lebih tak ada kabar.
Aku malu untuk sekadar menghubungi terlebih dahulu, aku sadar aku
perempuan.
Akhirnya meski dengan menyimpan malu aku mencoba untuk mengirim pesan untuknya,”Heii, apa kabar? Sibuk ya? :D”
“Baik. Iya ni sibuk sekarang”, balasnya sangat singkat. Ya Tuhan, aku
malu sekali. Harusnya aku tak usah mengiriminya pesan, ini sama saja
merendahkan harga diriku. Mulai saat itu aku berjanji tak mengiriminya
pesan. Aku tak mau memulai, dia harus sadar dialah lelaki, dialah yang
harus memulainya. Aku rasa dia masih mencintaiku karena pada saat umurku
genap 17 tahun dia mengirmku kata-kata indah. Yang aku sesalkan adalah
kata-kata terakhir. Dia menuliskan namanya di akhir kalimat. Ganjil
sekali pikirku. Tanpa dia harus menuliskan namanya pun aku sudah tahu
kalau itu pesan darinya. Jelas-jelas nomer ponselnya sudah aku save dari
jaman batu. Mulai saat itulah aku selalu berasumsi buruk tentangnya.
Pertama, dia mulai bosan padaku karena aku tak pernah bisa dimengerti
olehnya. Kedua, dia membutuhkan cinta yang pasti yang selalu bisa berada
di dekatnya saat dia merasa membutuhkan bahu. Ketiga, dia sibuk dengan
semua kegiatannya yang menurutku membosankan sekali dan aku tak pernah
suka dengan semua kegiatannya. Keempat, dia sudah punya pacar.
Asumsi-asumsi ini membuatku setengah gila. Hidup dibayangi asumsi bodoh
yang tak pernah aku tahu kebenarannya. Hidupku sudah pincang, semua
terasa hambar. Saat aku mulai menyukai caranya merayuku, caranya
memintaku untuk menjadi pacarnya, bahkan caranya memintaku untuk makan.
Perlahan membuatku takut kehilangannya dan aku sadar aku mulai
ditinggalkan. Jangankan bertemu untuk sekedar membalas pesan-pesan
singkat dariku saja agaknya sudah menjadi hal berat untuknya. Padahal
aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tak memulai, tapi hatikulah
yang menuntun untuk hanya mengirim pesan say hello padanya. Benar kata
Sheila on 7 yang liriknya, “Kau takkan pernah tahu apa yang kau miliki
hingga nanti kau kehilangan”, dan kini benar-benar kehilangan setelah
semua yang aku lewati, setelah semua yang dia berikan kepadaku. Untuk
kali pertama aku benar-benar merasa menjadi pecundang.
Menatap kosong keluar jendela. Hujan menyisakan pelangi sebagai
penghias langit. Ah, indah. Tapi tak seindah hatiku kini. Aku masih
berjuang untuk menghapus sisa-sisa kenangan dan ingin segera membuang
jauh-jauh perasaan ini. Mungkin lebih baik begini, lebih baik sendiri.
Ini yang selalu aku takutkan, ditinggalkan, ditinggalkan kenangan.
Tiba-tiba aku merasa tak pantas untuknya. Dia sekarang menjadi lelaki
hebat, dengan jabatan Ketua Osis membuatnya merasa di awan. Sungguh, aku
tak pernah berharap dia bosan dengan semua rutinitasnya dan kembali
padaku. Karena akulah yang menancapkan duri dalam hatinya maka aku pula
yang akan mencabutnya kemudian membuangnya. Rindu itu masih ada saat
tahu bahwa dia telah menjalin hubungan khusus dengan rekan dalam
organisasinya. Biar saja aku yang merasa sakit sendiri, biar saja aku
menangis kemudian menyekanya sendiri. Sampai saat ini, tak ada seorang
pun yang bisa menggantikan dia. Bahagia pernah menjadi sepotong cerita
masa lalunya. Meski menyesal telah mencintainya.
Beberapa bulan lagi kami akan berpisah, kota impian kami beda dan
lagi misi dan visa kami beda dan dia sudah menjadi milik sesorang yang
beda, sayang bukan aku yang akan memiliki hatinya seutuhnya. Aku ingin
melanjutkan kuliahku di kota impianku, Depok. Dulu saat kami masih
dekat, sepertinya dia ingin menetap di Jogja dan meneruskan impiannya
untuk menjadi seorang wartawan. Beberapa bulan ini mungkin akan menjadi
saat terberat bagiku. Tapi aku tak mau terkalahkan oleh hati. Perasaan
akan aku singkirkan, aku tak ingin sakit lagi, aku tak ingin menangis
lagi. Dan beberapa bulan ini akan menjadikan aku lebih kuat melangkah
sebagai remaja yang siap meraih semua impiannya. Semoga!
-END-
sumber : http://cerpenmu.com/







0 comments:
Post a Comment