Tuesday, 3 March 2015

Cerpen Kisahku di Awal Ramadhan

Hari pertama ramadhan tahun ini (2009) baru saja dimulai, terasa ada sesuatu yang berbeda apabila dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain. Ketika bulan suci ini dibentangkan bagi umat Muslim diseluruh dunia, serentak suasana rindu – pun mendekap dengannya dan mengendap dalam relung hati. Hati yang dipenuhi dengan kebahagiaan dan kegembiraan yang memuncak dalam dekapan bulan yang dipenuhi dengan keberkahan dan keistimewaan.

Sedikit lucu, apabila ku ingat hari pertama mamasuki bulan ramadhan tahun ini. Ketika malam pertama dibulan ini, yaitu malam pertama untuk melaksanakan sholat sunnah tarawih. Sebagaimana biasanya, sholat sunnah tarawih dilakasanakan dimasjid secara bejama’ah. Sholat sunnah tarawih dilaksanakan tergantung dengan kebiasaan dan ketentuan dimasing-masing tempat, maksudnya untuk jumlah raka’atnya.

Ada disebagian tempat melaksanakan sholat sunnah tarawih dengan jumlah 23 raka’at lansung dilanjutkan dengan witir, dengan pelaksanaan 2 raka’at satu kali salam untuk tarawih dan 2 kali salam untuk witir, dengan pelaksanaan 2 raka’at salam pertama dan 1 raka’at salam kedua. Adapula dengan jumlah 8 raka’at, cara pelaksanaannya sebagian dengan 2 raka’at satu kali salam dengan witir 3 raka’at langsung satu kali salam dan 4 raka’at satu kali salam dengan 3raka’at langsung salam.

Malam pertama aku melaksankan sholat tarawih dimasjid al-Ikhlas desa Riding Panjang Kecamatan Merawang Bangka. Kebetulan dimasjid tersebut melaksanakan tarwih dengan jumlah 23 raka’at langsung dengan witir.

Pada awalnya memang telah tertanam pada diriku untuk sholat tarwaih cukup mengikuti imam hanya sampai delapan raka’at dengan witir dilaksanakan sendiri, jika dimasjid yang melaksanakan tarawih delapan raka’at aku ikuti sampai selesai, tuntas dengan witirnya. Setelah rak’at kedelapan tiba, maka aku bergegas keluar dari masjid dan langsung pulang kerumah. Sesampai dirumah, aku tidak langsung masuk kedalam rumah, melainkan mampir ke konter HP milik abang ipar ku, yang berada didepan rumah mertuaku, kebetulan yang jaga konternya adalah istriku.

Aku langsung masuk kedalam konter tersebut, dengan sedikit perbincangan kecil dengan istriku. Tidak terasakan waktu telah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Sepulang dari masjid aku berniat melaksanakan witir dirumah, akan tetapi sampai pukul 21.00 WIB, belum terlintas sedikitpun dalam benakku terfikirkan bahwa aku belum melaksanakan sholat witir. Kemudian aku dan istriku masuk kedalam rumah langsung menuju kamar tidur. Sedikit senda gurau menemani hingga kami tertidur. Pukul 03.00 WIB alarm berbunyi, kamipun terbangun.

Waktu sahur tiba, tetapi belum juga teringat olehku kalau aku belum melaksanakan witir. Kami langsung makan sahur, hanya istriku yang tidak ikut sahur karena datang bulan (hait). Waktu subuh tiba, aku langsung melaksanakan sholat subuh. Setelah usai sholat subuh, baru aku teringat bahwa dari semalaman aku belum melaksanakan witir. Ah … sudahlah, inikan bukan disengaja, lagian inikan sunnah. Kalau bukan karena lupa mana mungkin aku meninggalkannya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 WIB, aku dan istriku harus bersiap-siap untuk pulang ketempat kontrakan kami di Sungailiat, sekaligus harus bekerja sebagaimana aktivitas keseharian. Sesampai dikontrakan, hanya sekita 10 menit kami kami langsung berangkat menuju tempat intriku kerja, yaitu di Islmic Centre. Setelah sampai, aku langsung memutar arah kendaraanku dan bergegas kembali menuju kontrakan kami.

Akupun sampai, dan langsung masuk kedalam untuk istirahat. Kurang lebih pukul 09.00 pagi, aku berangkat menuju tempat kerjaku di SD Negeri 11 Sungailiat, tepatnya di Lubuk Keli Parit Padang. Aku ke sana untuk menyelesaikan Laporan Bulanan Agustus 2008 untuk tingkat SD/MI dan pengumpulannya paling lambat tanggal 5 dalam setiap bulanya setelah sekian lama aku menulis laporan tersebut, sejenak aku berdiri. Sedikit rasa haus menggerakkan langkah kakiku menuju tempat air minum gelas kemasan, yang kebetulan didalamnya ada sekantong permen KISS. Tidak terbayangkan dalam benakku kalau hari itu adalah hari pertama berpuasa ditahun ini. Aku langsung membuka kantong permen tersebut, tanpa ada keganjilan dan kejanggalan permen tersebut aku masukkan kedalam mulutku.

demi hisapan terus ku lakukan, tiba-tiba baru teringat olehku bahwa aku sedang berpuasa. Maka seketika itu pula aku langsung mengeluarkan permen tersebut dari mulutku dan aku langsung berkumur-kumur untuk menghilangkan rasa manis permen tersebut dari mulutku. Setelah itu, kembali aku lanjutkan menyelesaikan laporan tersebut. Akhirnya selesailah sudah laporan tersebut.
Dalam benakku, mungkin hal ini terjadi padaku karena belum terbiasa. Maklum baru hari pertama berpuasa, seolah-olah rasanya seperti hari-hari biasa. Semoga jadi pelajaran dan renungan!

-END-

Sungailiat, Agustus 2008

Cerpen ini merupakan karangan dari Nayrus El Rayyan. Diambil dari cerpenmu.com yang dipublish pada tanggal 30 mei 2012.

Monday, 2 March 2015

cerpen Tenggelamnya Sekoci Yin Gelama

Langit merah mulai memenuhi ufuk Barat, kicau burung-pun mulai tak terdengar lagi. Gemuruh ombak kian teratur. Angin bertiup sepoi-sepoi. Seisi alam mulai mengakhiri aktivitasnya.
Dari kejauhan terlihat bayangan samara-samar sebuah sekoci akan memasuki kuala. Perlahan tetapi pasti ia kian mendekat. Seketika itu pula meriam pertanda datangnya kapal memasuki kuala dibunyikan. Tummmm… dentuman meriam telah dibunyikan. Sekoci-pun mulai menelusuri aliran sungai, berjalan perlahan karena sungainya tidak begitu luas.
Suasana kian mengelitik telinga, serangga-serangga sungai berbunyi saling bergantian, sahut-menyahut. Bagaikan berada dalam sebuah keramaian, yang memecahkan kesunyian. Sang nahkoda terus memusatkan pandangan ke depan. Tak menghiraukan keramaian serangga-serangga sungai tengah bergembira, karena seharian menahan diri.
Tiba-tiba dari bilik tirai pondokan sekoci terdengar suara merdu memecah kebisingan suara serangga-serangga sungai yang sedari tadi terus berbunyi. Dialah Yin Galama, putri Kho Ho. Yin Galama ini bukan Yin Galema dalam novel karya Ian Sancin. Dia hanyalah putri seorang pedagang Tiongkok yang membawa barang-barang seperti; keramik, mangkok Cina dan lain sebagainya. Barang-barang tersebut ia datangkan lansung dari negerinya. Pelayaran sekoci Kho Ho melintasi Laut Natuna diperairan Muntok hingga masuk ke wilayah laut Metibak Peradong.
Suara merdu dari putri Kho Ho kian memukau. Sang nahkoda jadi semangat memainkan baling-baling setir sekoci, meski gelap malam kian mencekam. Sejenak suara merdu itu terhenti, dan terdengar sebuah sebuah pertanyaan dari Yin (panggilan Yin Galama).
“Pa, kita di mana sekarang?”
Kho Ho pun menjawab pertanyaan putrinya.
“Kita sekarang ada di aliran Sungai Peradong.”
Kemudian Yin kembali bertanya pada Papanya.
“Sungai Peradong ini masuk wilayah kawasan mana Pa?”
“Sungai ini masuk wilayah kawasan bagian Muntok.”
Setelah mengerti, Yin pun terdiam. Batinnya bertanya-tanya mengapa Papnya membawa barang-barang tersebut ke Peradong.
Malam semakin gelap, serangga-serangga sungai satu persatu mulai menghentikan suaranya. Yin pun masuk ke dalam bilik pondokan sekoci. Dalam bilik ia merenung, ada apa gerangan di kampong Peradong, sampai-sampai Papanya membawa barang-barang demikian ke sana.
Di tengah redupnya suara bising serangga-serangga sungai, nahkoda menyuarakan pada seisi sekoci bahwa sebentar lagi akan tiba di pelabuhan pekal Peradong. Pelabuhan ini tidak sama halnya dengan pelabuhan-pelabuhan lainnya, karena pelabuhan pekal Peradong hanyalah pelabuhan yang kecil, yang lebih cocok dinamai dengan tambatan perahu. Namun, demikianlah adanya pelabuhan pekal Peradong.
Sedikit bahagia dihati Yin, walaupun perasaan dihantui dengan rasa penasaran terhadap kampong yang dituju.
Tiba-tiba, nahkoda berteriak kaget, seisi sekoci menjadi terkejut, ada apa gerangan nahkoda berteriak…?? Ternyata seekor buaya besar lewat di depan muka sekoci. Kini, keterkejutan itu telah sirna. Tapi, tiba-tiba… gradakkkk…. seperti ada sesuatu yang menabrak, sekoci jadi bergoyang ke kriri dan ke kanan. Nahkoda jadi panik, ia merasakan ada sesuatu yang berbeda pada sekoci yang dinahkodainya. Ternyata, buntut belakang sekoci mengalami kebocoran. Seisi sekoci jadi berhamburan, rasa ketakutan menghantui hati mereka.
Air telah masuk ke dalam sekoci setengah mata kaki orang dewasa, sekoci tetap berjalan hingga tiba di tikungan sungai. Sesampai di tikungan sungai, air telah setengah badan sekoci. Seisi sekoci meloncat ke luar.
Perlahan tapi pasti, sekoci mulai tenggelam. Harapan Kho Ho pun ikut tenggelam, karena barang-barangnya ikut tenggelam bersama sekoci. Mereka pun berenang menuju tepian sungai, termasuk Yin. Sesampai di tepi sungai, mereka memanjat pohon-pohon yang ada. Dengan tubuh kedinginan mereka mendekap di pohon-pohon menanti malam berganti siang dengan harapan yang pupus.
Kampong Peradong yang dituju belum kesampaian, siang yang dinanti pun masih lama. Sunguh malang nasib Yin Galama, karena sekoci Kho Ho tengelam seiring dengan larutnya malam.
-END-
Sekoci : kapal kecil
Kuala : muara (pertemuan antara air laut dengan air sungai)
Pekal : pangkal
Cerpen ini merupakan karangan dari Nayrus El Rayyan. Diambil dari cerpenmu.com yang dipublish pada tanggal 30 mei 2012.

Cerpen Bintang

Dia, duduk di samping jendela, dibawah sinar lampu yang temaram. Mencoba memandang langit yang gelap, hanya ada rembulan yang memantulkan sebagian dari cahaya matahari. Tak ada bintang yang terlihat, semua bersembunyi dibalik awan, barangkali malu untuk kulihat, katanya dalam hati seraya tersenyum. 
Angin malam berhembus sepoi-sepoi, seolah menghembuskan udara pada wajahnya yang lembut. Awan bergerak perlahan, memberikan seni tersendiri di kegelapan malam. Ahh, ternyata ada satu bintang di balik awan, senyumnya tersungging di balik bibirnya yang mungil. Ya Rabb, ternyata setitik cahaya pun bisa memberikan keindahan yang luar biasa diantara luasnya langit yang gelap di malam hari. Ah, seandainya ketika membuka jendela, memandang langit dan tak menemukan bintang kemudian dia tak mencoba menatap awan tapi menutup jendela kembali, dia tak akan menemukan bintang yang tersembunyi di balik awan.
***
Seperti setitik bintang di kegelapan malam, terkadang kita tak menyadari ada cahaya kecil dalam malam yang gelap, yang kita berinama “bintang”. Betapa indahnya cahaya itu walaupun tak bisa menerangi malam. Tapi, lain halnya ketika kita melihat ada setitik noda di atas kain putih yang membentang. Kita justru terfokus pada noda yang kecil, dan seolah lupa betapa bersihnya kain itu terlepas dari setitik noda yang ada, yang mungkin bisa hilang hanya dengan sedikit detergent pemutih. Itulah hidup, kadang-kadang kita lupa untuk memandang sesuatu dari sisi lain yang dimiliki.
Saya, memiliki seorang murid yang saya pikir kecerdasannya kurang menonjol dibanding lainnya. Suatu hari, ketika kami tengah membicarakan sistem tata surya, hanya sebagai pengetahuan bahwa bumi merupakan salah satu planet dalam sistem tata surya yang menjadi tempat tinggal manusia, murid saya itu, sebut saja namanya Rimba, tiba-tiba berdiri dan mengambil helm milik guru lain yang disimpan diatas loker dalam ruang kelas serta memakainya. 
Tanpa saya sadari saya berkata kepadanya :”Wah,,,teman-teman, lihat!! Rimba memakai helm, seperti astronot yang mau terbang ke bulan ya…”. Semua teman-temannya memandang ke arahnya, dia tersenyum, spontan helmnya langsung di lepas dan dikembalikan ke tempat semula, tanpa harus disuruh untuk mengembalikan. Kemudian saya ajak mereka untuk menggambar roket di atas kertas putih yang tersedia. Dan hasilnya, Subhanallah, murid yang saya pikir kecerdasannya kurang menonjol itu justru tahapan menggambarnya dua tingkat lebih tinggi dibanding murid yang saya pikir paling pandai di kelas.
Seandainya saja saya memberikan reaksi yang lain seperti :”Rimba, silakan dikembalikan helmnya karena sekarang saatnya kita belajar”, atau :”Maaf, silakan dikembalikan helmnya karena Rimba belum minta ijin bu guru”, atau yang lainya, mungkin saya tidak akan pernah tahu bahwa kecerdasan dia sudah lebih dari apa yang saya sangka karena pembahasan hari itu bukan tentang astronot atau roket. Atau barangkali saya membutuhkan lebih dari satu kalimat perintah untuk membuatnya mengembalikan helm ke tempat semula.
Reaksi berbeda yang kita berikan ketika kita memandang bintang di kegelapan malam atau setitik noda di selembar kain putih ternyata akan memberikan hasil yang berbeda pula. Hidup ini indah, cobalah kita memandang sesuatu dari sisi yang lain, maka yang tampak bukan hanya sekedar 2 dimensi. Bukankah lebih seru ketika kita melihat film 3 dimensi???
-END-
Cerpen ini merupakan karangan dari Wijayanti dan Blog pribadinya 12warna.blogspot.comDiambil dari cerpenmu.com yang dipublish pada tanggal 16 Juli 2012.

Cerpen Pahit

Pahit benar kalau dirasa baik-baik. Tidak ada rasa yang sebaik ini jika kita hanya berdiam diri. Renung-renung malam sepi dalam untaian nada tak bersuara hanya merintih, menangis, sedih, luka bagai terkulai lemas. Aku dan jiwaku terpaku dalam nada-nada yang tak bisa di ungkapkan kata demi kata, bait demi bait, dan alur demi alur. Cerita panjang yang akhirnya kandas dalam perjuangan sesaat.
Melawan taqdir adalah hal yang paling tidak mungkin dilakukan oleh seorang manusia tidak berdaya seperti kita, mengubah arang menjadi api, mengubah debu menjadi asap, mengubah angin menjadi hujan, mengubah air mata menjadi tawa. Semua itu adalah hal-hal tersulit yang tak dapat di tembus akal manusia seperti kita, berjuang untuk hidup atau berjuang untuk berkuasa.
Hari yang satu dengan hari yang lain telah berlalu dalam mutiara pujangga harahab, melantunkan berkat demi keindahan sesaat, membawa pahit duka nestapa yang begitu mendalam. Merubah alur menjadi jalan panjang yang tak berketentuan arah. Berontaklah, anestesia! Berontaklah! dalam dawai yang tersendak dari dulu mati. 
Bergumam dalam nyanyian arwah yang tak pernah terdengar dan terasa dari hati setiap manusia yang mati. Aku dan perjalanan hidupku kini mulai melarikana diri dalam hutan-hutan cemoohan, huta-hutan hinaan, hutan-hutan makian dan perulangan yang tak dapat dipungkiri baik atau buruknya.
Aku dalam aku kian makin marak bertanya dalam dengki dan dendam. Mengubah kata maaf menjadi bencana panjang. Aku tak sanggup membawa semua beban yang terkulai lebar sendiri, membawa lari darah yang membawaku dalam ajal kematian.
Tapi, kini kesadaranku mulai nyata adanya, bahwa aku dalam hidup ini harus yakin akan merpati putih yang baik dan penuh tanya, memaafkan semua, membuatnya menjadi indah pada waktunya.
Berlarilah dengan mulia dalam hidup yang penuh dusta nestapa, berlarilah dengan membawa kehancuran yang tak kunjung datang. Yakinilah semua berubah dengan indah dan nikmat, penuh rasa, penuh suka cita, baik cepat atau lambat, kelak dunia akan membuktikan kebenaran mutlak yang tak terelakan.
-END-
Cerpen ini merupakan karangan dari Rashyid. Diambil dari cerpenmu.com yang dipublish pada tanggal 30 mei 2012.

Cerpen Rania

Aku masih di sini. Bersama dengan Rania di sudut kantin sekolah. Tampak sekali sekitar kami sudah sepi. Yang memastikan bahwa hampir semua siswa SMA Pramudya Aksara sudah pulang ke rumah.

“Aku tak bisa, Dai.”

Itu adalah ucapan Rania yang sudah dikatakannya lebih dari lima kali sepanjang kami berbincang sejak bel pulang berbunyi tadi.

Kenapa? aku membatin.

“Kenapa?” aku bertanya hati-hati.

Kuamati lagi gadis yang duduk gelisah di hadapanku ini. Tak mengerti dengan jalan pikirannya yang selalu berbelit-belit.

Apa sebenarnya dasar logis yang dimiliki Rania sehingga ia menolak kedatangan cinta yang sudah lama diharapkannya?
“Aku tahu kamu sangat mencintainya, Rania. Terlampau mencintai, malah. Jadi apa alasannya kamu menolaknya? dia sudah datang untukmu!”

Hampir-hampir saja aku tak bisa menahan amarahku. Syukurlah ada angin yang berhembus melewati kami dan membuat kekesalanku sedikit berkurang.

Duh.. Rania sungguh keras kepala! umpatku dalam diam.

“Aku… Aku tak bisa, Dai.. Dan kamu tahu sebabnya kenapa.”

Ah… Aku terhenyak ketika kudapati buliran kristal cair itu luruh dari kedua mata Rania.
Ia menangis…

Habis sudah keberanianku untuk mendesak Rania yang keras kepala. Aku pun menunduk memandangi es kelapa di gelas Rania yang tinggal setengahnya. Memikirkan apa yang seharusnya kuucapkan lagi agar Rania merasa lebih baik. Rania mungkin saja benar. Dengan mengatakan bahwa aku tahu sebab dari pilihannya itu. Kenapa ia menolak kedatangan Bri dan malah memilih untuk menjauh darinya. Kukira sebabnya adalah karena Rania merasa ia tak berhak untuk memiliki kebersamaan dengan Bri..

Bri sudah memiliki Syifa. Dan Rania tak ingin merusak keharmonisan Bri dan keluarga barunya.. Dan lagi,, ada neneknya yang tinggal seorang diri di rumah mendiang ayahnya. Bagaimana mungkin Rania tega meninggalkannya sendiri? Akhirnya, Rania pun memilih menolak permintaan Bri yang mengajaknya tinggal bersama. Aku tahu, Rania mencoba untuk mengalah (lagi). tapi tetap saja…

“Dai,, aku tak apa-apa. Aku akan baik-baik saja.”

Rania tersenyum lemah. Mendengarnya berkata begitu, masih tak cukup meyakinkan diriku bahwa ia dalam keadaan baik-baik saja. Aku tahu hatinya pasti sedih sekali. Tapi apa yang bisa kulakukan lagi untuknya? aku hanya sahabat yang hanya bisa mendengarkan. Tak bisa lebih dari itu!
Akhirnya aku pasrah. Biarlah Rania dengan keputusannya itu. Hanya saja kuharap, ia
bisa kembali ceria seperti Rania yang kukenal dulu.
^_^
“Rania…”
Aku terkejut ketika mendapati Bri yang tengah berjalan ke arah kami. Rania spontan menoleh ke belakang. Butuh beberapa detik untuknya sebelum ia bisa menyahut panggilan Bri kepadanya.

“Ibu…”

Bri tersenyum lembut mendengar suara Rania. Sedikit ayunan angin di jilbab putihnya membuat Bri tampak cantik sekali. Sementara di sampingnya, Syifa berjalan perlahan mengikuti Bri dan menatapku.
Aku diam. Tiba-tiba saja merasa tak pantas berada di sini. Tapi aku tak bisa kemanamana
dikarenakan Rania tadi segera memegang ku erat-erat. Akhirnya kuputuskan untuk diam saja.

“Pulanglah bersama ibu, nak. ayo.”

Rania tampak akan menangis lagi. Kali itu, Bri sudah duduk di sampingnya. Tangan kirinya masih memegang tangan Syifa agar tak pergi kemana-mana. Dan Syifa masih menatapku penasaran. Aku masih tetap memilih diam.

“Rania pulang ke rumah nenek saja, bu.. Tak apa-apa.”

Bri tersenyum sebentar sebelum akhirnya kembali bicara,
“Maafkan ibu, Nia. Maafkan ibu karena sudah meninggalkanmu bersama ayah. Maafkan ibu karena lebih memilih islam dibandingkan kalian, keluarga yang juga sangat ibu cintai. …” 

Bri berhenti berucap. Terlihat matanya mulai memanas dan berkaca-kaca. Lalu, lanjutnya lagi..
“Tapi… ibu tak pernah menyesal dengan keputusan ibu lima tahun lalu itu, nak.. Yang ibu
sesalkan adalah ibu tak bisa membawamu serta bersama ibu. Saat itu ayah tak mengizinkan
ibu untuk membawamu.. Ia tak mau kamu meninggalkan cinta kepada Yesus.. Dan ibu tak
berdaya…”

Rania tak bisa menahan buliran air matanya. Ia menatap Bri dengan pandangan penuh cinta. Ia tahu pasti bagaimana kesusahan yang dialami ibunya ketika dulu memilih berpisah dari ayahnya. Ibunya jatuh cinta kepada Islam. Yang akhirnya membuat pernikahan mereka harus diakhiri. Meski mereka masih sama-sama mencintai..

“Tapi kini..” lanjut Bri berkata.
“Kini ayah sudah meninggal. Kamu bisa ikut dengan ibu, Nia.. Kita kembali bersama sebagai satu keluarga. Meski…” 

Bri melirik sekilas ke arah Syifa. Balita empat tahun itu tampak asyik
melihatku. Dan ini membuatku sedikit jengah.
” …Meski kini ibu sudah memiliki keluarga baru. Tapi ibu tetap mencintaimu, Rania..
Tinggallah dengan ibu.. ibu mohon…”

Bri pun tampak tak lagi bisa menahan airmatanya. Ibu dan anak itu saling menatap dengan tangisan di pipinya. Saling memandang. Mengharapkan satu sama lain untuk saling memiliki.
Sementara aku?
Hampir saja aku menangis. Tapi tidak! Aku tak bisa menangis… Aku masih bergumul dalam haru dan kediamanku saat ini.
“Ibu…” Rania akhirnya berucap juga.
“Rania sudah memaafkan ibu. Rania mengerti dengan pilihan ibu. Rania pun sangat mencintai ibu. Tapi…” Rania diam sejenak.
 “…Rania harus bersama nenek. kasihan nenek. ia hanya tinggal seorang diri.”

‘Hancur’ mungkin adalah kata yang tepat untuk menjelaskan hati Bri saat mendengar penuturan Rania itu. Sedikit banyaknya aku tahu, Bri berharap Rania, puterinya mau ikut tinggal bersamanya dan juga mau menerima Islam seperti dirinya.. Tapi apalah daya. Rania sudah sangat keras kepala (meneguhkan hatinya) untuk mengambil pilihan ini. Saat itu, Syifa masih menatapku penasaran. Tapi aku mengacuhkannya.

“Baiklah… Ibu mau menerima keputusanmu, nak.. Tapi ibu sangat berharap Nia kelak bisa tinggal bersama ibu.”

Rania melihat mendung dan kecewa itu di mata Bri. Kami sama-sama melihatnya. Aku tahu, Rania pasti merasa sangat bersedih juga dengan keputusannya ini. Sehingga sejenak kemudian, dalam tempo yang cukup lambat, ia kembali berkata.

“Meski Nia tidak tinggal bersama ibu…” Rania terdiam lagi dan terlihat seperti meneguhkan hatinya untuk bisa melanjutkan ucapannya.
“…Nia bersyukur karena Nia juga bisa jatuh cinta pada pilihan ibu lima tahun lalu.”
Bri terpana. Aku juga. Syifa tampak kebingungan menatap ke ibunya dan Rania.
“Alhamdulillah…” ucap syukur Bri saat memeluk Rania.
“Alhamdulillah…” ucap Rania untuk semua kebaikan yang dialaminya di hari itu.

Aku terharu. Aku berharap bisa menangis bersama ibu dan anak itu. Mensyukuri lahirnya keimanan baru yang merengkuh kehidupan baru Rania. Merubah segalanya jadi indah pada akhirnya. Tapi lagi-lagi aku hanya bisa diam.

“Kak Rania..” Suara mungil Syifa terdengar lembut. Bri dan Rania melepas pelukannya dan beralih melihat Syifa.

“Boneka beruangnya lucu. Namanya siapa? Buat Syifa ya?”

Aku beralih menatap Rania. Ia tersenyum mengangguk dan kemudian berkata dengan senyum penuh di wajahnya. Membuatku tak kuasa menahan senyumku juga..
“Namanya Dai… Dan kamu bisa memilikinya. Dai adalah sahabat yang sangat baik. Mama Britani yang kasih Dai buat kakak..”

Aku tersenyum.. Kubagi pula senyuman itu untuk ketiga orang perempuan di hadapanku. Perlahan Rania melepas pegangan tangannya dariku dan tiba-tiba saja aku sudah ada dalam pelukan tangan mungil Syifa.

Saat itu,, kurasakan bahagia yang tak ada kiranya.
Dan aku tahu pasti, ini semua disebabkan oleh satu hal.
Cinta Keluarga.

^_^…
>>>sedikit quote tambahan dariku: mom’s love always around u. (senyum lagi ah…)^_^.
(ini semua tentangmu, “ibu”)…
-END-

Cerpen ini merupakan karangan dari Azzura LiaDiambil dari cerpenmu.com yang dipublish pada tanggal 29 mei 2012.

Cerpen Ada Apa Denganku

Pagi itu langit hitam kelam. Angin membelai masuk melewati jendela kosan 3x4m, Matahari malas keluar, dia terus bersembunyi di balik awan gelap. Seperti halnya aku yang masih bersembunyi di balik selimut tebal peninggalan nenek yang sangat bau yang aku sangat suka. Hari ini adalah hari Kamis, hari terakhir dalam seminggu aku berkuliah. Sungguh malas kuliah pagi ini, ditambah “tamu” yang setiap bulan datang membuat perutku merasa tidak nyaman dan menambah semangatku untuk tidak kuliah. Dan setiap aku teingat raut muka kedua orang tuaku perasaan itu sedikit hilang, ya, hanya sedikit.
Berjalan menyusuri gang-gang sempit yang setiap hari aku lalui ini sungguh memuakkan, ditambah dengan keringat orang-orang pasar yang membuat aku semakin muak dengan keadaanku sendiri. Sengaja aku lewat gang pasar karena hanya gang pasar akses tercepat yang menghubungkan kosanku dengan kampus. Bertemu dengan orangorang apatis yang sangat tidak peduli dengan orang lain. Masyarakat kota yang individualis. Berbeda sekali dengan kampungku, kampung cinta damai. Dimana hanya ada satu dua orang yang sedikit individualis dan itupun bukan penduduk asli kampung, orang kota yang punya segudang bisinis di desa. Benar kata Frankie, petani mencari kerja di kota, orang kota mencari kekayaan di desa. Sesaat menerawang jauh ke kampungku tiba-tiba saja ada sepeda motor yang hendak menubrukku dari depan yang kemudian menyadarkanku bahwa inilah kota.
“Goblok, jalan gak liat-liat, pake mata dong”, bapak berkumis tebal itu memarahiku. Sepertinya dia tergesa-gesa sekali hendak mengantarkan barang dagangannya. Hanya mampu menghela nafas panjang, terlalu banyak umpatan yang ditujukan kepadaku, tapi kali ini adalah murni salahku. Dengan wajah memelas aku hendak meminta maaf dan sebelum kuucapkan kata maafku orang tua itu sudah enyah dari hadapanku. Mungkin sudah peringaiku untuk selalu berlaku lemah lembut akan tetapi di sini, di kota yang belum pernah aku kunjungi sebelum aku dinyatakan lolos SNMPTN, mereka selalu menyebutnya dengan lelet. Sakit hati iya, tapi lama kelamaan aku sudah bebal dengan ejekan tersebut.
Kursi depan selalu penuh setiap kali aku datang, entah jalanku terlalu lambat atau mereka yang datang terlalu dini. Aku selalu menempati bangku paling belakang di kelas. Ada sesuatu yang tidak membuat aku nyaman berada di antara mahasiswa baru ini. Aku jarang sekali mengerti kuliah yang diberikan dosen, dan aku benci ini. Dengan belajar keras pun IP ku hanya mencapai 2,89. Dosen menurutku layaknya sales yang menawarkan produknya yang aku sama sekali tidak berminat dengan produk yang ditawarkannya. Jujur, tidak ada niatan sedikitpun berkuliah jurusan teknik. Dulu aku bercita-cita ingin jadi sastra, tapi Tuhan berkata lain. Katanya Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Dan faktanya sampai saat ini semester 2 aku masih belum bisa menerima keadaan ini.
“I’, nanti kita ngerjain tugas kelompok di rumah Gita ya, awas kalau sampai pulang”, ancam Vina salah seorang temanku yang sangat membenci keleletanku. Mereka memanggilku Ai’, nama lengkapku Aina Fitri. Entah apa filosofi dari namaku, setiap kali aku tanya orang tuaku, mereka menjawab dulu waktu lahir bapakku lihat ada model pakaian yang cantik bernama Aina dan karena aku lahir pada hari raya Idul Fitri makanya mereka menambahkan kata Fitri di belakang.
“Emangnya tugas dikumpulin kapan? bukannya masih 2 minggu lagi ya? gimana kalau besok Senin aja? aku pengen pulang kampung, hampir tiga bulan aku belum pulang”, tawarku dengan lagi-lagi wajah memelas. Wajah memelasku sering membuat luluh orang dan inilah andalanku.
“Yahh, padahal aku pengen cepet selese, ya udah lah aku juga mau main, salam buat orang rumah ya”, meski kadang benci padaku tapi Vina adalah teman yang baik. Dia kadang merasa kasihan dengan keadaanku. Aku juga heran kenapa dia kasihan padaku. Alasannya cukup simpel, katanya aku lugu, mudah dibohongi juga, kalau semua orang ingin memanfaatkan keluguanku setidaknya ada satu orang yang tidak akan memanfaatkan keluguanku dan dia bilang orangnya adalah dia sendiri.
Kereta berangkat pukul 14.00. Kereta ekonomi yang baunya nggak karuan adalah transportasi yang biasa aku gunakan untuk mengobati rasa rinduku untuk pulang ke kampung halaman. Alhamdulillah aku berada di samping ibu-ibu dan depanku bapak-bapak. Sepertinya mereka orang-orang baik. Ketika tahu bahwa aku adalah seorang mahasiswa, bapak-bapak di depanku terus menasehatiku,”Sekolah yang bener, Nak, kasihan orang tua yang membiayai, gak usah pacaran-pacaran dulu, nanti kalau sudah jodoh pasti Tuhan akan mempertemukan kamu dengan pasangan yang tepat”. 
Aku hanya mengangguk-angguk sambil sesekali mengiyakan. “Tuhan itu Maha Adil, laki-laki baik-baik hanya untuk wanita yang baik-baik, begitu juga sebaliknya, jadi kamu tidak usah takut kamu besok dapat lelaki yang tidak baik, kalau kamu adalah wanita baik insya Allah kamu pasti dapat lelaki yang baik pula”, lanjut pak tua yang tepat duduk di depanku. Walaupun agamaku masih sangat cetek, tapi aku tahu dalam Islam tidak ada yang namanya pacaran. Sangat disayangkan remaja sekarang banyak yang melakukan aktivitas pacaran. Dan yang lebih sangat disayangkan, aku sering melihat mahasiswa perempuan dengan kain yang menutupi kepalanya bergandengan tangan dengan lawan jenis yang jelas-jelas bukan mahramnya. 
Tak tahulah apa yang ada dipikiran mereka. Mungkin mereka tidak kasihan dengan orang tua yang membiayai sekolah mereka. Mungkin juga orang tua mereka kaya raya jadi tak perlu lah merasa kasihan kepada orang tua. Tapi bukankah kedua orang tua akan lebih senang seandainya anak yang mereka bangga-banggakan itu berada pada jalan yang diridhoi Allah. Sebenarnya aku tidak berhak berbicara seperti ini, agamaku saja masih awut-awutan. Lihat kerudungku, layak dibilang kelambu. Rambutku terlihat dari luar, sempat aku berpikir untuk membenahi cara berkerudungku tapi ibuku bilang ibu tidak suka anaknya terlalu fanatik dengan agama. Padahal jelas-jelas aku tahu bahwa fanatik itu perlu. Aku memang bukan lahir dari keluarga yang agamis, ibuku pun jarang menutupi auratnya seperti apa yang diperintahkan Allah untuk membalut tubuh dengan pakaian taqwa. Jika ada pengajian atau berita lelayu saja ibu memakai kerudung. Sedang bapakku adalah sesosok bapak yang otoriter yang ilmu agamanya sangat minim sekali. Lahir dari keluarga militer membuat bapakku dididik layaknya seorang prajurit. Setelah kakek nenekku meninggal, bapakku menjadi orang yang paling disegani di keluarga meski bapak adalah anak bungsu dari keluarganya tapi anak-anak budhe paling takut sama bapakku.
Tak terasa 6 jam sudah berlalu, akhirnya sampai juga aku di stasiun Tugu Yogyakarta, aku lahir di Kali Kotak, sebuah desa terpencil di daerah Sleman. Bapak sudah menjemputku lengkap dengan atribut layaknya tukang ojek kebanyakan. Bapakku memang lahir dari keluarga berada tapi naasnya kakekku suka main perempuan, tak teruruslah keluarga bapakku. Meski kakek seorang tentara berpangkat kapten tapi anaknya tak ada yang meneruskan sekolah hingga ke bangku SMA, hanya budheku saja yang hampir menamatkan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) sayangnya kakekku keburu tergoda wanita lain dan hancurlah rumah tangga kakek nenekku.
“Kamu belum makan to? ini bapak beliin bakmi goreng Pak Yanto”, kami memang dari keluarga sederhana tapi bapak selalu menomorsatukan anak, apalagi masalah makanan. Tak ayal tubuhku tambun.
“Emang ibu ndak masak, Pak? kan sayang buang-buang uang”, aku mencoba untuk menyadarkan bapak kalau kami adalah keluarga pas-pasan.
“Sudahlah, kamu cuma bapak suruh makan aja susah”, bapak memang selalu tak memberiku ruang untuk berpendapat. Dari keempat anak bapak, akulah yang paling disayang dan aku juga yang paling sering membuat bapak murka.
Rumah sepi kala aku membuka pintu seraya mengucapkan salam. Rupanya ibu sedang pengajian di Mushola kampung. Mandi kemudian makan bakmi goreng kesukaanku. Dengan mulut penuh dengan makanan dari tepung itu aku bercerita tentang kuliahku yang membosankan, teman-teman yang selalu menertawakanku seolah-olah aku adalah bahan lelucon mereka, dan cerita tentang ospek yang tak kunjung usai.
Seharian penuh aku lalui dengan melepas rindu pada rumah dan seluruh isinya. Sore hari biasanya kami sekeluarga kumpul di ruang tengah, mendiskusikan apa saja yang ringan-ringan hingga waktu maghrib tiba kami mengantri kamar mandi untuk berwudlu kecuali bapakku. Tidak lupa aku mengingatkan bapak untuk sholat walaupun aku tahu kalau bapak pasti tidak akan mau. Ini yang membuat aku pilu, selalu pilu. Berbagai macam cara aku ajak bapakku untuk sholat tapi masih saja beliau enggan. Mulai dari sindiran halus sampai tidak halus sekalipun tak mempan. Sampai pernah suatu hari bapak marah padaku karena aku terlalu memaksa untuk sholat. Setiap tahajud aku selalu berdoa kepada Allah supaya Allah mau membuka hati bapakku.
***
“Bu, aku pengen merubah penampilanku, aku pengen pakai kerudung besar tapi aku malu orang-orang menertawakanku. Nanti dikiranya aku sok alim”,rengekku pada ibu yang tengah menjahit kain.
Ibu menghentikan jahitannya,”Kenapa harus malu untuk menjadi lebih baik? Ibu juga ingin sehari-hari menutup kepala ibu seperti yang kamu inginkan, Nduk”. Kaget bercampur haru, aku memeluk ibu erat. Air mataku menetes, langsung kuseka, aku tidak ingin ibu tahu kalau anak perempuannya sudah pandai menangis lagi. Karena dewasa ini aku memang jarang menangis kecuali menonton film India. Ibu melepaskan pelukanku, pergi ke kamarnya dan memanggilku,”Kamu pengen paki rok kan, Nduk? Ibu punya banyak, bawalah dua dulu. Nanti kalau kamu pulang kampung lagi ibu belikan rok lagi”, sekali lagi kupeluk ibu.
***
Malam sepertinya cepat sekali, ternyata tadi siang ibu menjahit kerudung untukku, kerudung yang tidak seperti kelambu. Kerudung yang menutupi mahkotaku. Dengan rok hitam milik ibu dan setelan putih milik kakakku nomer satu yang sekarang sudah bekerja di pabrik rokok. Kucium pipi dan tangan ibu, seperti enggan untuk melepaskannya tapi waktulah yang mengharuskan semuanya berjalan dengan cepat. Ternyata bapak tidak jadi mengantarku dengan alasan yang rumit daan sulit aku cerna. Setelah kucium tangan bapakku aku diantar Lek Karyo menggunakan motor bututnya. Malam ini aku berjanji aku harus menjadi diri yang baru, aku tidak mampu untuk menyia-nyiakan tanggung jawab yang diberikan orang tuaku. Aku terlalu sayang kepada kedua orang tuaku. 
Akan kukubur dalam-dalam mimpiku untuk menjadi sastrawan. Jika belajar keras pun tak akan mengubah IP ku maka aku akan belajar dengan temanku yang pandai. Setidaknya aku akan membuka sedikit diriku, aku yakin mereka adalah orang baik, hanya logat bicaranya saja yang “sedikit” kasar bagiku. Perjalanan pulang penuh dengan wajah teduh ibu,”Tuhan, jaga wanita itu. Sungguh, aku rela jika harus menumpahkan darahku untuk kebahagiaan wanita itu”, doaku dalam hati yang kemudian aku amini sendiri. Bagaimana dengan bapakku? Entahlah, aku hanya terus berdoa semoga Allah membukakan hati bapakku. Benci iya, tapi sayang sangat. Dan rasa benciku tertutupi oleh sayangku yang teramat dalam.
Pagi buta aku sampai di Surabaya, kota tempat yang indah ketika aku merasakan bahwa disinilah aku akan mendeklarasikan diri menjadi anak yang berbakti dan bertanggung jawab kepada kedua orang tuaku. Kosan masih sepi, anak-anak sepertinya belum semua yang balik ke kosan. Setelah mandi kubaringkan sejenak badanku sebelum harus berangkat untuk mengejar harapan. Ganti pakaian dengan baju “baru” kebanggaanku. Melangkah dengan gontai diiringi senyuman setiap melewati orang yang melihat ke arahku. Gang pasar itu berubah layaknya red carpet yang dengan bangganya aku berjalan melewati gang itu. Ternyata bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur tapi bersyukurlah yang membuat kita bahagia.
Kutunaikan maghribku di mushola dekat kos yang berjarak tak lebih dari satu jengkal, kosanku memang bersebelahan dengan mushola. Sesudah sholat kuputuskan untuk pulang. Belum sempat kulepas mukenaku ponsel monochrome ku bordering.

“Assalamu’alaikum, Nduk” suara yang selalu aku rindukan .
“Wa’alaikumsalam, apa apa Bu?”
“Sampai Surabaya jam berapa? Kok ndak kasih kabar rumah?”
“Pukul 05.00, aku kira Ibu sudah tahu kalau aku sampai sini puku 05.00”
“Ya sudah, itu ndak penting, Ibu punya berita bagus. Bapakmu mau sholat, Nduk”
Kaget bercampur haru membuat tangisku pecah seketika. Lama aku tak bicara membuat ibu kebingungan.
“Nduk…Nduk…kamu kenapa? Jangan-jangan kamu tidur ya?”, ibu terus kebingungan,”Owalah, ditelepon orang tua kok malah ditinggal tidur, yowes jangan lupa belajar, jangan tidur terus, ndak maju-maju nanti kamu, Nduk”
Nut..nut..nut..nut..
-END-

Cerpen ini merupakan karangan dari Tiara Widodo. Diambil dari cerpenmu.com yang dipublish pada tanggal 22 mei 2012.

Thursday, 22 January 2015

Cerpen Ketika Mimpi Mengutarakan Hati

pengarang : Syahrima
Twitter         : @syahrima
Blogger      : http://syyahrima.blogspot.com
Pagi yang cerah, keadaan sekeliling sepi.. Hanya kicauan burung yang terdengar. Seakan merasakan kesepian dan kesendirian. Bunga-bunga disekitar taman yang harum merekah dan secangkir kopi hangat kemudian terdengar suara hembusan angin. Tama mengawali harinya dengan bergegas pergi kesebuah kafe untuk mengerjakan tugas kuliah nya. dengan menggunakan motor lengkap dengan helm, jaket, dan masker.
Di cafe ini tempat biasa Tama menghabiskan waktu luangnya. walaupun hanya ditemani dengan secangkir kopi hangat dan tumpukan tugas yah harus dikerjakannya. Tama melihat seorang gadis berkerudung disisi cafe. dan ternyata gadis ini sudah sering dilihat oleh Tama setiap ia mendatangi cafe ini. Keesokan harinya Tama mendatangi cafe yang sama. Dengan tujuan yang sama untuk mengerjakan tugas namun hari ini ia juga datang ke cafe untuk menemui sahabatnya yang bernama Faiz.
FAIZ Woi Tam! Apa kabar men? Masih idup juga rupanya.. Hahahahaa.. Masih gini-gini aje lo. Gak bosen apa sendirian terus?

TAMA Kabar baik sob.. Apaan sih lo??! gw masih betah menyendiri coyyyy!! (dengan nada ketus)

FAIZ Wetsss.. Santai bro! mau gw kenalin gak sama cewek? Cakep nih.. lumayan lah daripada lumanyun..


TAMA Ahh.. Paling juga orangnya biasa aje.. Tapi siapa sih emangnya? gak papa deh biar gw gak kesepian gitu ye..

Dengan rasa penasaran Tama melihat dengan pandangan serius ke arah Faiz, tiba-tiba seorang gadis datang dari arah berlawanan.

RISYA Hai.. Tama ya? (sambil tersenyum dan menjabatkan tangan pada Tama)
TAMA Hmm.. emm.. Iya.. Iya gw.. Gw Tama. ohh.. Jadi elo yang mau dikenalin si Faiz ke gw? (sambil menepuk bahu Faiz)


Tama tersenyum dengan wajah yang memerah.. ternyata gadis yang dikenalkan Faiz adalah gadis yang selama ini diperhatikan oleh Tama setiap ada di cafe. Tama, Faiz dan Risya banyak berbicara dan bercanda juga bertukar fikiran hingga banyak lelucon yang muncul dipembicaraan mereka. Hingga akhirnya Tama menanyakan alamat rumah Risya.
TAMA: Rumah lo dimana, Sya? Kali aja nanti kalau gw iseng gw bisa main gitu, syukur-syukur kalau dapet makan geratis.. Heehee.. (sambil mengambil alat tulis untuk mencatat alamat Risya)

Tama mendatangai rumah Risya untuk mengajak Risya makan malam di cafe yang biasa mereka datangi hingga akhirnya mereka pergi ke cafe tersebut untuk makan malam. Tama memberanikan diri untuk menyatakan isi hatinya pada Risya, dan Risya menerima Tama sebagai kekasih hatinya.

TAMA (sambil menggerak-gerakan kakinya) Hm.. Sya.. Kayaknya ada yang mau gw omongin nih.. boleh gak nih gw omongin sakarang?..

RISYA Omongin apaaaa?… Kayaknya serius banget.. Hee..hehehe
TAMA Emang serius banget ini.. ehhh tapi belum tepat ah waktunya.
RISYA Yee.. Serius ah, mau ngomong apa sih lo? Jangan bikin kepo ahhh.. (sambil memukul lengan Tama)


TAMA Kepoooo banget sih.. Hmm.. To the point aja deh. Gw… gw.. Gw suka sama lo, Sya. lo mau jadi pacar gw gak? (Tama menatap Risya)

Keadaan seketika hening, mereka saling berpandangan dalam waktu yang cukup lama, dan akhirnya Risya menerima cinta Tama.

RISYA Hm..gimana ya.. Iya, gw mau.. Gw juga ngerasain apa yg lo rasain, Tam.. gw mau jadi pacar lo.. Dengan wajah memerah, Tama tersenyum bahagia. Dan sejak malam itulah mereka resmi menjadi sepasang kekasih.

Risya sedang membuka salah satu situs jejaring sosial, hingga akhirnya ada seorang lelaki yang mengajak Risya untuk berkenalan dan akhirnya Risya kenal lalu dekat dengan seorang lelaki yang bernama Arief. Risya dengan laptopnya yang sedang chatting dengan lelaki yang bernama Arief. Risya bertemu dengan Tama, mereka saling melepas rindu.. namun ada yang berbeda dari gerak-gerik Risya. Hingga akhirnya Risya tiba-tiba berpamitan pergi pada Tama dengan sikap aneh dan terkesan terburu-buru.

RISYA Tamaaa… kamu udah dari tadi sampenya? (sambil mengelus kepala Tama)
TAMA Enggak kok.. Kamu dari mana aja kok lama?


RISYA Lama? nggak Kok, perasaan cepet.. Mungkin karena kamu sampe duluan jadi ngerasa lama. Maafin aku yaa..


TAMA Iyee.. Gakpapa. Semalem kamu kemana? Aku telepon kok gak diangkat malah kamu matiin gitu aja? sengaja atau gimana tuh?


RISYA Nggak kemana-mana kok… ahh.. Kamu tuh mikir nya jelek mulu sih ke aku. aku tuh lagi mumetttt banget sama tugas (mimik muka kebingungan)


Mereka saling berbincang hingga pada akhirnya Risya tiba-tiba berpamitan untuk pergi. Tama bingung dengan tingkah laku Risya. Dan Tama hanya terdiam melihat Risya pergi dengan perlahan.

RISYA Tamm.. maaf ya aku gak bisa lamalama nihh..

TAMA Pergi kemana lagi siiiihhh????.. baru sebentar udah pergi lagi. Aneh banget kamu nggak biasanya kayak gini..


RISYA Aku mau pergi nihhh buru-buru banget. Nanti aku kabarin kamu yaaaaa..


Dan Risya pun pergi meninggalkan Tama dari cafe tersebut.

Risya menghubungi Tama untuk mengajak bertemu disebuah taman siang ini.. mereka membuat janji untuk saling bertemu dan Risya ingin meminta maaf kepada Tama.

RISYA Halo.. Lagi ngapain kamuuu?.. aku ganggu nggak nihh?

TAMA Haii.. gak kokk. Lagi ngerjain tugas aja nih, kenapa, Sya? (dengan nada datar yang terkesan sedang kesal)


RISYA Gak kenapa-kenapa sih.. Kita ketemuan yuk, kangen nihh..


TAMA Ahh nanti ditinggal lagi kayak kemarin. Gak mau ahh (dengan nada bercanda)


RISYA Ihh kamu.. Nggak deh nggak. Seriusan nih kita ketemuan, aku tunggu jam 2 di taman biasa yaaa.. Keadaan jalan raya dengan lalu lalang kendaraan.. terlihat disebuah taman Tama sedang terdiam menunggu Risya. Hampir sejam Tama menunggu Risya ditaman yang sudah dijanjikan, namun Risya tak kunjung datang… Tama sudah meyiapkan sebuah mawar merah untuk diberikan pada Risya.


Hampir 3 jam Tama menunggu Risya di taman hingga hujan turun membasahai seluruh tubuhnya namun Risya tetap tidak datang, hingga akhirnya Tama memutuskan untuk meninggalkan Taman itu.


TAMA Harusnya gw nggak dateng kesini.. Harusnya gw nggak usah turutin apa mau dia, kalau akhirnya kayak gini.. Ternyata emang semuanya udah nggak sama kayak dulu lagi…
Dan akhirnya Tama pun pergi meninggalkan Taman itu, bunga
mawar yang sudah disiapkannya ditinggalkan bergitu saja. Tama pergi dengan perasaan kecewa.

Risya mencoba menghubungi Tama namun tak ada jawaban. Setelah 3 kali menghubungi barulah diterima oleh Tama. Dan Risya meminta maaf kepada Tama.

RISYA Halo.. Tam.. Tama..


TAMA Iya. Kenapa?


RISYA Aku..aku mau minta maaf. aku tau kamu marah ya sama aku..


TAMA Kemana aja kamu, Sya? Udah kesekian kalinya kayak gini.. Kamu yang ngajak ketemuan tapi kamu yang ngga dateng.


RISYA Iyaa.. Maafin aku Tam. Aku tau aku salah..


TAMA Aku tunggu kamu dari siang sampe sore. Kamu tetep aja nggak dateng. Kemana sih??


RISYA Aku pergi,Tam.. Ada keperluan mendadakan yang nggak bisa aku tinggalin gitu ajaaa..

 Aku mau besok kita ketemu. Sekarang aku janji nggak akan telat atau gak dateng lagi. Plissss (dengan nada yang memelas untuk memohon agar Tama mau menemui Risya)

TAMA Iya.iya.. tapi aku nggak bisa kalau sekarang-sekarang ini. Lagi banyak tugas.
RISYA Yaudah.. Kabarin aku aja kamu bisanya kapan yahh. (sambil mengakhiri pembicaraannya di telepon)


Arief tiba-tiba menelepon Risya untuk mengajak pergi esok hari, padahal esok hari adalah waktu Risya untuk bertemu dengan Tama. Hingga akhirnya Risya memutuskan untuk menemui Arief setelah urusan nya dengan Tama selesai.

ARIEF Sayang.. Kamu besok ada acara gak? Kita pergi yuk.. Udah lama nih nggak jalan lagi

RISYA (dengan nada panik dan terbata-bata) Wahh? Besok? Mau kemanaaa?.. Nggak sih aku gak tau ada acara atau nggak. Liat besok deh ya sayang..


Keesokan harinya Risya datang ke sebuah cafe tempat ia biasa menghabiskan waktu luangnya bersama Tama. Di tempat yang berbeda Tama yang dalam perjalanan tiba-tiba mengalami kecelakaan, motor yang dikendarai oleh Tama tertabrak oleh sebuah mobil yang ternyata di kendarai oleh Arief. Risya menunggu cukup lama di cafe tersebut hingga ia cemas.. Berjam-jam menunggu Tama tak kunjung datang akhirnya Risya pergi dengan Arief.

RISYA (O.S.) Tama kemana nih.. Aduh nggak biasanya dia telat sampe di telepon nggak aktif gini.. Baru kali ini aku cemas kayak gini yampun.. Dijalan Tama terlihat murung, tidak seperti biasanya.. Ia mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Ia juga melamun saat mengendarai motor.

TAMA (V.O.) Tuhan.. Langkah ini terasa ringkih untuk melangkah. Setiap langkah kaki ini terasa berat semenjak ia merubah suasana hati yang berwarna menjadi redup. Tuhan.. Cinta yang begitu besar pada wanita itu tidak melebihi cintaku pada-Mu. Hingga saatnya nanti hanya cinta yang dapat mengutarakan kegundahan hati ini.


Karena sudah telat untuk bertemu dengan Risya, Tama akhirnya mengendarai motor sangat kencang dan ternyata dari arah berlawanan ia ditabrak oleh sebuah mobil. Arief datang untuk menjemput Risya. Namun Risya mengira Arief adalah Tama.

ARIEF Haii.. Sayang.. yuk.. Kita pergi sekarang.

RISYA Tamaaaa…. Lama banget yampun datengnya kamu kemana aja..


ARIEF Tama? Siapa itu?


RISYA (keadaan panik) Ituu.. Temen aku kokk.. Tanpa basa-basi Arief langsung pergi meninggalkan Risya dengan keadaan marah, Risya yang bingung langsung mengejar Arief hingga akhirnya mereka pergi dengan keadaan saling bertengkar di dalam mobil.


Keadaan Arief yang benar-benar sedang marah pada Risya membuat suasana semakin keruh. Mereka berdua saling mengadu tuduhan satu sama lain.

ARIEF Udah deh bilang aja kalau selama ini kamu emang sembunyiin sesuatu dari aku

RISYA Bukan sembunyiin sesuatu, tapi emang kamu nggak tau aja aku udah deket sama Tama dari sebelum aku kenal kamu.


(Flashback) sebuah makam yang usang dengan keadaan sekitar yang teduh.
Foto-foto Tama dengan Risya lengkap dengan boneka dan hadiah yang pernah Tama berikan pada Risya


(Flashback) Tama menunggu Risya berjam-jam disebuah taman dengan membawa sebuah bunga mawar sampai hujan turun dengan deras namun Risya tak kunjung datang dan ternyata Risya sedang pergi dengan Arief..


Risya tidak mengangkat telepon dari Tama karena sedang fokus chatting didunia maya dengan Arief, lelaki yang baru dikenalnya.


Tama yang sedang mengendarai motor dengan kecepatan tinggi lalu ditabrak oleh mobil dari arah berlawanan. Terlihat plat nomer mobil tersebut yang menabrak Tama. Dan orang yang menabrak Tama melarikan diri. Mereka saling tuding hingga akhirnya percekcokan itu terjadi didalam mobil. Dalam kondisii emosi Arief mengendarai mobil dengan ketidaksadaran. Dan akhirnya dari arah berlawanan mereka menabrak pembatas jalan karena kecerobohan Arief saat mengendarai mobil. Hingga akhirnya Risya dan Arief pun mengalami kecelakaan yang mengakibatkan Arief meninggal dan Risya lumpuh total.. beberapa hari setelahnya Risya mengetahui bahwa Tama juga mengalami kecelakaan hebat yang mengakibatkan Tama meninggal dunia. Risya sangat terpukul dan merasa bersalah atas kematian Tama.
-END-
sumber : http://cerpenmu.com

Friday, 16 January 2015

Cerpen Sepucuk Mawar Hitam dan Sebening Udara Malam

pengarang : Ade yasir
Ketika semuanya berakhir, Rina membelai paras cantik temannya yang selama ini menetes kan bunga kesedihan lantaran ditinggal kan oleh kekasih nya.
Setiap malam Lya menangis dan besedih , hingga air matanya yang mengeruh tak tampak lagi diwajah cantik nya. belum usai perkara yang satu, datanglah perkara yang memang tak seorang pun menginginkan nya, paslalnya seseorang yang didamba-damkan utuk ber lanjut kepelaminan itu meminta kembali semua yang telah diberikan sebagai hadiah ketika mereka berpacaran dulu.
Sempat semuanya hancur tak berbekas ketika semuanya tejadi begitu cepat dan tanpa disadari waktu pun telah mengikiskan kenangan-kenangan yang ter puruk dalam hidupnya.
Kesal memang ketika masa lalu- yang kelam harus mucul lagi di hadapan Lya dan mau mejadi sebuah pertalian yang jeas-jelas telah tecoreng oleh tinta hitam kelam yang membunkus hari-hari dengan penuh kesedihan.

“Rey… Apa yang kamu lakukan di, sini.” Lya.

“Ly… sorry gw gak sengja lewat kok…emmmmm, bdw… kamu tinggal di
komplek ini juga , ya…” Ray.


“emmm… iya mang napa…” Lya.

“engak kok… Cuma naya aja … Dah berapa lama kamu tinggal disini.”

“sudah hapir dua bulan Ray, kamu tinggal di komplek ini juga , ya.”

Akhirnya mereka bercakap hingga tak teras pedih nya luka Lya, yang dulu pernah tergores oleh penghianatan cinta Ray, ke Lya.

Namun dalam hati yang ter dalam Lya pun masih memendam cinta pada, Ray. Ray adalah cinta yang pertam Lya. Jadi sulit rasanya bagi Lya, untuk melupakan Ray. Yang dulu pernah mengisi hatinya walapun itu hanya sementara.

“Ly… terkadang cinta membutakan segalanya ya ?”

“Cinta…cinta…cinta.”

“apaan sih… Rin gw gak ngerti ama loe…”

“ah… Loe jangan pura-pura gak tau gettooo…, gw tau kok loe itu kan lagi jatuh cinta lagi kan ayo… Ngaku , iya kan?…”

Lya tak segera menjawab dia hanya tersenyum, dan mengelengkan kepalanya dengan gerakan kecil.

“Enggak kok…”


“ayo… ayo, ngaku aja deh… mang cowok mana sih yang bisa membuat sahabat, manisku jadi genit kayak gini..”

“ah.. ngaco aja loe Rin , da’ah gw males bahasnya.”

“entar…entar dulu biar gw tebak, siapa yang membuat putri cantik ini menjadi selalu berseri, emmmmm … past Edo kan yang … emmmm”. Sambil memegang tangan Lya yang memang sudah salah tinggkah, dibuat nya.

“ah ngaco aja loe Rin mana aja sih loe, ih geli ngeliat nya … amit-amit ih.. dah mukanya culun ingusan terus pokok nya gak ada bagus-bagusnya deh.”

“Terus siapa dong?…”

“ada aja… ah…ha..ha” sambil berlari menjauih Rina.”

“Awas … loe gw bakal cari tau… ha… ha.. ha”

Hari ber ganti hari seras malam menutup sing dan siang pun tertutup kabut dan awan yang membiaskan sianar mentari dan rembulan merasuk ke dalam impian dan hayalan. Hingga malam pun terasa menjadi siang dan siang pu tetap menjadi siang, tak tidur dalam malam namun, terelap dalam hayal. Itulah gambaran hati Lya anak sulung dari penulis kondang yang sedang naik daun itu.
Meski Ray adalah pria yang dulu pernah menyakiti hatinya. Hingga ketika Ray pergi meninggal kan nya, dia hanya menagis dan menagis, hingga matanya benar-benar tidak mengeluarkan air mata lagi, tapi darah dan kesedihan lah yang mengiringi hari-hari Lya.

Namun ketika luka itu sembuh Ray pun datang kembali tuk membuat luka yang baru. Dan pada akhirnnya Rina pun mengetahui apa yang sedang dialami teman akrab nya sendiri. Rina tak ingin sahabat nya terluka lagi oleh pria yang sama. Namun ketika Rina mendatangi Ray, dan tanpa disengaja Lya melihat apa yang di lakukan Rina ke Ray. 

“Ray, sebaik nya loe jangan bikin gara-gara lagi ama Lya, Dia sudah cukup menderita dengan sikap loe yang gak jelas ini. Apasih mau loe ke Lya, dia sudah capek dengan kepalsuhan yang loe buat.” Namun Ray diam dan tidak segera menjawab.

Dan Rina melanjutkan kata-kata nya lagi. “mendingan loe cabut dan jangan mucul lagi didepan Lya, karna sudah terlalu banyak kesalahan yang loe buat ama dia.”

“oke… oke gw akan cabut dan gw gak bakal nongol-nongol lagi… puas loe.”

Namun ketika Ray mau pergi. dari belakang terdengar suara Lya, memanggil
“Ray. Ray… Tunggu..!” namun Ray pun terus melanjutkan langkah nya menuju loby untuk mengambil mobil nya yang terparkir di sana.

“Ly… Ly jangan bodoh loe”

“apa-apaan sih Rin, mendingan loe gak usah ikut campur urusan gw ama Ray, urusin aja diri loe sendiri.”… sambil mengejar Ray, yang telah jauh meningalkan Rina.

“tapi… tapi Ly…” .

Namun Lya masih saja mengejar Ray, yang sudah jauh meninggalkan mereka.

“dasar keras kepala, orang yang tak tau di untung. emmm… kejar aja romeo loe itu. Mulai sekarang gw gak akan ikut campur urusan loe, ama Ray. Loe mau apa kek terserah loe dan gw gak bakalikut campur…!!!”. Rian pun kesal dan bergegas meninggalkan nya.

Hari pun ber anjak dari kejadian yang kemarin, Rina dan Lya pun tak tanpak ber tegur sapa lagi, ketika kedua nya ber temu. Meski merekapun berpapasan antar muka.

Namun mereka tampak seperti orang asing yang belum pernah saling kenal mengenal.

“say, itu kan Lya, solmet kamu. kok kamu gak biasanya, emmm… lagi kesel ya ?” Tanya Junedi, yang tak lain pacar Rina. “Ohhh… gak papa kok say… aku lagi kesel aja ama dia,”

“kesel kenapa sih, kok bidadari ku sampai kayak gini sih,”
“ya… kesel aja, kamu tau kan say, Ray…”

“emmmm… Ray, yang dulu pernah jadi cowok nya Lya. yang kemudian Ray, meninggalkannya lantran dia lebih memilih cewek lain yang Lebih dari Lya,”

“ya… ya … tepat banget say.”

“terus masalah nya apa ?”

“jadi Ray itu setelah sekian lama liang dia kini mucul lagi dan dia berusaha ngerayu buat jadian lagi ama Lya,”

“wah… bener-bener tuh anak, terus gimana kelanjutanya. Lya mau?”

“justru itu Say aku kesal, karena Lya lebih memilih Ray yang dulu pernah menyakiti nya.

Di banding aku, yang temanya sendiri. Aku gak mau dia terluka lagi tapi, dia malah nyalain aku karana aku bilang ke Ray jangan deketin Lya lagi.” Dengan muka merah sambil meneteskan air mata di pipinya. Namun bergegas junedi menenangkan Rina. “Uadah… uadah jangan bersedih gitu dong… aku kan jadi ikut sedih, dari pada sedih besok kita ke bungalou paman ku di bukit indah. Mau gak..”

“mau… mau…mau”

“tapi… kamu gak boleh sedih lagi, kita sepakat”

“oke bosss, kamu baik deh”

Sementara itu Lya dan Ray, mengadaka Party bersama teman-teman Ray, yang semuanya berasal dari anak-anak orang semua, sama seperti Ray. Yang konon bapak nya adalah seorang businessman berlian yang terkenal seAsia, penghasilan tiap bulannya sekitar 1-2 triliun.

Namun siapa Lya dia hanya gadis dari desa yang bernaung di dareah orang yang hanya bermodalkan tenaga utuk hidup dan bertahan Di Jakarta.

Rasa itulah yang dirasakan oleh Lya di pesta itu, terlebih lagi teman-teman Ray selalu membicarakan hal-hal yang tak mungkin bagi Lya. Hanya liburan dan barang-baran mewah yang mereka perbicangkan sedang Lya hanya diam dan tanpa ada rona senang dan gembira menikmati pesta itu, hanya perasaan yang tidak di orangkan dan tidak dianggap.

“ayo… ayo… kita nikmati party ini…” Ray dengan suara keras agar mereka menikmati hidangan. Namun Lya, tidak dia haya diam dan seperti orang yang ter asing di lautan karang

“Ly… kok kamu disini menyendiri doing sih, ayolah bergabung ama teman-teman aku, kamu jangan mempermalukan aku di depan teman-teman ku. Ayo.. lah.” Ajak Ray. “iya… iya Ray” jawab Lya sambil mengikuti Ray yang menarik tangnan Lya, agar mengikuti ajakan Ray.

Dan kemudian Ray pun menenal kan siapa Lya ke teman-teman Nya.
“Para hadirin, Teman-teman undangan ku yang berkenan hadir di pesta ku ini, aku ingin memperkenalkan Seseorang wanita cantik yang telah mengisi hati ku kembali. Dia adalah, Lya.”


Serempak seluruh pandangan dan rasa kagum, juga tepukan tangan hanya tertuju pada Lya seorang. Namun Lya tidak menyaka bahwa dia hanya dijadika barang tarohan Ray dan teman-teman nya.

“brengsek… Ray telah memenangkan permainan ini… Sial!”
“sabar boss ini belum ber akhir wanita itu belum tentu mau lagi ama Ray, soalnya dulu dia sudah pernah di per main kan oleh Ray, slow boss,”
“oh… ya… ya… ya”

Namun dari belakang Radeks muncul lah Ray, dan dia berkata “Radeks… Radeks, loe belum tau siapa gw yang sebenar nya. Gw Ray… sang penakluk wanita, wanita manapun yang ketemu gw pasti bakal bertekuk lutut di kaki gw. Ha…ha…ha”
“Jadi party ini sengaja loe buat, hanya untuk memenangkan tarohan kita. Emmm gila loe Ray!”

“jadi menurut saran gw loe siap-siap aja jadi kacung gw selama satu bulan. Ha… ha…ha.”. dengan sombong nya Ray,mengucapkan kata-kata itu sama Radeks dan kawan-kawannya.

“ini belum selesai Awas loe Ray.” Sambil pergi dan mengancam Ray.
“silakan saja, jika loe mampu.”

Namun tampak dibalakan Ray ada Lya yang telah lama mendengar percakapan mereka, dan tampak muram wajah Lya dan kusut seakan dia telah melakukan hal yang sangat bodoh pada teman akrab nya.

Air mata nya pun meleleh lagi dan tak mungkin terhapus dengan kata kata maaf saja , dan seakan semuanya telah ber akhir dan sia-sia untuk memikirkan kembali kedunia yang indah penuh canda dan tawa bersama temannya Rina.

Lya pun pergi meninggalkan Ray dengan menangis, dan takada satu kata pun yn terucap oleh Lya saat meninggalkan Ray, dan hanya tetesan air mata lah yang terjatuh dan tersisa di lantai marmer hitam dan kelam sehitam dan sekelam air mata kesedihan yang begitu dalamyan terulang lagi dalam kehidupan Lya.

“Haruskah … aku akhiri hidup ku yang kelam ini…”

“Harus kah… aku terjun dari menara kesedihan ini”

“Dan harus kah … Aku potong urat nadiku ini dihadapan Mu tuhan…”

“apa yang salah… Apa yang salah, salah kah bila aku mencintai makhluk ciptaan mu yang lain, selain aku… tuhan”

“apakah aku tak pantas hidup untuk menikmati ke indahan cinta, yang begitu indah yang ku dambakan dalam hidup ku ini tuhan..!!!”

“Jawab aku tuhan jika memang engkau benar-benar ada!!”

Dengan menangis histeris tubuh merenggang otot dan kesedihan yan menutupi akal nurani Lya, hingga benar-benar seluruh emosinya di lapiaskan Pada dirinya sendiri tuk mengakhiri hidup nya.

Lya memang tak mampu menahan kesedihan, dan kekecewaan yang begitu dalam, hingga membuat gadis belia ini nenjadi gelap mata. Dan ingin mengakhiri hidupnya dengan menggoreskan pisau tajam ke lengan nadinya. Dan pisau pun diambil dari sebuah tas kecil yang biasa di bawanya.

Dengan berlahan Lya pun membuka mata pisau yang melipat di badannya, dengan sedikit gemetar namun pisau tajam pun di acungkan diatas kepalanya, sembari berkata.
“lihat…Tuhan apa kah ini yang engkau mau dari ku. Jika memang engkau ingin melihat aku mengahiri hidup ku ini, biarlah kebencian, dendam dan keperihan mengalir bersama darah ku ini.”

Nampak nya Lya benar-benar ining mengakhiri hidup nya dengan jalan yang salah. Sebilah pisau nya benar-benar mengarah ke lengannya, agar merobek nadi yang masih ber denyut keras. Jantungnya serta darah nya berdenyut dan mengalir bagai meronta namun mereka tak kuasa.

Berlahan tajam nya mata pisau menukik dan mencongkel kulit lengan nadi, dengan sedikit jeritan kesal pisau pun digenggam nya dengan keras dan tak mau dilepas kan dengan satu alasan yakni “ Hidup sensara mati pun tak berdaya” itulah anggan dan hayalan seorang gadis cantik yang tengah mengakhiri hidupnya.

Ketika sebatang pisau yang begitu tadi tajam merobek urat nadi nya. Pisau yang di pegang terasa begitu berat . Dan tak mampu untuk digerakan lagi. Semakin berat tak mampu lagi, Lya genggam meski dengan kedua tagan nya.

Ini memang jawaban tuhan atas semua pertanyanan Lya tadi, bahwa manusia hidup selalu di penuhuhi dera, coba, dan bahagia. Dan itu semua adalah sematamata untuk mendewasakan para hambanya agar menjadi insan yang tabah dan dan sabar mengahapi cobaan-cobaan nya.

Lya pun menangis ketika bayangan Bapak dan Ibu nya beada didepan matanya, mereka berkata pada Lya agar tetap menjalani hidup apa adanya, dan juga menenangkan Lya agar tetap menjalni bahtera hidup ini dengan sabar dan tabah.

Dan pada akhirnya Lya sadar bahwa hidup itu bukan untuk hari ini, melain kan Hidup itu adalah masa yang akan datang, sekarang adalah rantai yang menuju masa yang ke emasa. Rangkaian peristiwa dalah segala kejadian, itu bukan untuk disesalkan tetapi untuk diadikan acuan agar kita mampu menembus masa depan dengan gemilang. Dan hidup itu bukan untuk diratapi melainkan utuk di hayati agar tetap menjadi insan yang selalu bersyukur akan nikmat yang tuhan berika kepada kita.

Lalu Lya pun bangun menghampiri ke dua orang tua nya dan ingin rasanya memeluk dan meciumnya, karena akan kerinduan yang begitu dalam yang ter bending dalam hatinya tuk melewati hari-hari bersamanya. Ketika massa kecil dulu.

Ingin rasanya Lya tidur di pangkuan mereka lagi dan menangis, tertawa, bercanda bersama ketika mereka masih hidup. Hingga Lya pun ber kata kepda ibu nya.
“Ibu bawah aku pergi ber sama mu, ayah aja lah aku keman pun engkau pergi.”
Begitu dalam kesedihan yang di rasakan Lya sehingga sungguh memang sangat berat.
Namun mereka hanya diam dan tersenyum sambil menggelengkan kepala.

“Ibu bawa lah aku, Ibu.”

Dan ibu nya Lya pun ber kata.

“Tidak anak ku, Hidup mu masih panjang dan perjalan mu masih jauh. Masih banyak yang belum engkau ketahui tentang makna hidup, dan kamu masih perlu banyak belajar agar kamu menjadi insan yang tawakal.”

“apa maksud ibu. Apa ibu dan bapak tidak menyayangi aku ?, ada apa dengan kalian ?.”
Namun mereka hanya ter senyum, dan ayahnya ber kata “pulang lah. Lihat sinar cahaya terang itu, melangkah lah kesana karena masih banyak orang-orang yang menyayangi mu.”

Lya masih diam dan menatap mata Bapak dan Ibu nya. Sembari menetes kan air mata yang mengiringi langkah kaki nya. Sedikit ragu-ragu Lya pun melangka kaki nya meninggalkan Bapak dan Ibunya. Namun berat langkah Lya tuk meninggalkan nya.
“ayo Lya cepat lah pergi hampiri cahaya itu. Jangan kau ragu kami akan tetap menunggu mu disini.”

Dan Lya pun melangkah dan maju menuju sinar cahaya tadi. Dan sekejap kilas semunya menutup dari pandangan Lya seolah cahaya tadi menerjang masuk ke kornea dan pupil mata Lya, hingga Lya pun ter bangun. Diatas ranjang putih ber tatakan seprai putih, juga berselimut kain putih. Lya pun memandang, dengan pandangan kabur yang tak jelas. Lya pun menggeraan tangan nya yang terasa begitu berat dan sakit tuk digerakan.

“Lya kamu sudah siuman.?. dokter.. dok.. dokter Lya sudah sudah siuman.” Begegas Rina menemui dokter Jaga untuk mengabar kan bahwa Lya telah Siuman.
Dan dokter pun segera memeriksanya .

“Emmm… Ini ini luar biasa darah nya keluar begitu banyak. Dan menurut medis kehabisan bayak darah, ini diluar dugaan kami. Luar biasa ini adalah keajaiban Tuhan,” tubuhnya mendingin kini telah stabil dan ini memang keajaiban tuhan.

Dokter jaga pun sedikit kaget melihat ke adaan Lya.

“makasi dok..” jawab Rina sambil senyum sedikit ke pada sang dokter.

“Rin… Apa yang terjadi, kok aku bisa ada di sini ?.” tanya Lya ke Rina.

“udah kamu istirahat dulu, kamu gak usah mikirin apa-apa lagi.” Rina pun menenagkan Lya.

Kini suda hari ke 7 Lya di rawat di ruma sakit dia pun kini sudah lebih baik dari kemain, yang sangat kritis dan hampir saja meniggal kan dunia untuk selamnya.

Lukanya sudah mulai sembuh namun hanya butuh beberapa hari lagi dalam tahap pemulihan.

“Rin, makasih yah kamu dah nylamatin nyawa aku. Aku juga minta maaf atas sikap aku yang keter laluan ama kamu Selama ini.”

“dah lah Ly, kita kan teman. Jadi teman itu harus saling menolong. dan Sekarng kita mulai lagi hidup kita yang baru oke.”

“Oke bosss”

“pokoknya kita akan selalu ber teman … TO FOREVER. ha…ha…ha.”

Dan pada akhirnya mereka pun ber teman lagi dan mereka ber janji agar tetap ber teman selamanya.
 -END-
sumber : http://cerpenmu.com