Tuesday, 30 December 2014

Cerpen Diary Albert

pengarang : Jibril
Facebook   : Jibril Al Muchliesh Zhien
Twitter        : @almuchliesh2
Diary Albert
Add caption
Mobil Jeep berhenti tepat didepan teras balkon lantai satu. Aku turun seraya menghirup udara segar. Rasa penat hilang seketika. Hawa di bukit ini sungguh menyegarkan. Mataku mengitari sekeliling Villa mungil yang dipagari rimbunan pepohonan redwood dan akasia. Sebuah beringin tua tampak kokoh di disebelah selatan danau. Aku sempat bergidik melihatnya. Seram. Diana lari masuk kedalam sambil berteriak memanggil paman Jessy. Ayah menjinjing koper dan ransel.

“ Tom, bantu ibu membawa box di bagasi mobil, setelah itu kau antar ke dapur.” Ujar ibu sambil mengangkat tas, juga ranselnya. Aku mengangguk. Di dapur seorang perempuan berbadan gemuk terlihat sedang mengiris bawang dan sayur.
“ Hai bibi Di.” Lirihku tapi mengejutkannya.
“ Hai Tom!” sahut wanita itu seraya meletakkan pisau lalu memelukku. “ Kenapa aku tidak mendengar suara mobil kalian?” ia mencium rambutku. “ Kami sengaja tidak membunyikan klakson. Ini kejutan dari ayah.” Tukasku. “ Dan sepertinya ayahmu berhasil membuatku terkejut. Bagaimana kabarmu?”
“ Seperti yang kau lihat. Aku baik baik saja.” Segera aku meletakkan box itu didekat meja dapur.
“ Terakhir aku melihatmu, kau masih kecil, sekarang tak kusangka. Kau sudah remaja dan sangat tinggi. Kau tampan sekali anakku. Seperti ayahmu…”
“ Tapi Bens sekarang terlihat lebih tua! Wajahnya telah memudar. ” celetuk ibu dengan membawa keranjang berisi roti.
“ Oh Mandy-ku sayang, apa kabarmu?”
“ Aku baik baik saja. Paman Jessy dan David kemana? Dari tadi aku tidak melihatnya?”
“ Mereka sedang pergi. Melepas sapi di ladang. Tengah hari mereka akan pulang.”
“ Oh begitu, yah. Tom. Istirahatlah.” Ketus ibu padaku. Aku mengangguk dan berlalu.

***
Mataku melihat danau yang indah dari balik jendela kamar. Memandang biru langit diatas pulau Cooper. Ini kali pertama aku liburan dan mengunjungi Villa baru kami. Aku duduk didepan meja persegi. Mataku melihat sebuah buku harian berwarna hitam. Diary siapa ini?
Malam yang gelap aku duduk diberanda lantai satu. David berkutat didepan Novel yang dipinjam dariku. Mataku menerawang bintang di angakasa yang lengang. Sunyi dan hening penuh kesan bahagia. Tanpa sengaja ku lihat sekelebat sosok lelaki berjubah hitam melintas di depanku. Lamunanku tersentak.
“ Kau melihat itu David?” tanyaku ketakutan. David menutup buku lalu melengosku.
“ Melihat apa?”
“ Ada yang melintas di depan kita barusan. Apa kau melihatnya?”
David menggelengkan kepalanya. Lalu tersenyum di susul kembali membaca Novel The Diamond Crown karya Michael Lewarth. Seorang penulis muda dari Auckland. Entah mengapa sejak melihat bayangan tadi perasaanku mulai tidak enak.
Karena malam ini kami hanya berdua, terpaksa aku meninta David tidur di kamarku. Ayah, Ibu, paman Jessy , bibi Di dan Diana menginap selama seminggu di rumah paman Renhart di kota kecil. Tante Rachel baru saja melahirkan anak pertamanya. Ayah diminta membaptis Renhart yunior. Aku menatap langit-langit kamar yang remang ini. David telah pulas. Aku tidak bisa tidur. Bayangan-bayangan aneh serasa menguntit di setiap jejak langkahku. Semenjak aku memasuki Villa ini, sepertinya ada yang terus mengawasiku. Tapi siapa?
To..tok..tok..
Telingaku menangkap seorang mengetuk pintu kamarku. Aku membangunkan David. Dia larut dalam mimpinya.
Tok..tok..tok..
Untuk kedua kalinya aku mendengar suara itu. Aku mencoba menepisnya dengan tidak menghiraukan. Ku sumpal telingaku dengan earphone. Mendengar musik Ballad. Country dan Pop. Sesaat kemudian.
Whussss.
Sontak aku terkejut. Gorden putih yang menutup jendela kamarku melayang di hempas angin kencang. Mataku terbelalak. Tiba-tiba seorang lelaki sebayaku duduk di bawah jendela dengan wajah pasi dan merengkuh lututnya. Ia seperti orang yang lama tenggelam di air. Pucat. Dingin. Dan membiru. Matanya pendar menatapku. Aku menggoyang badan David tanpa melihatnya. Mataku fokus pada remaja berusia 14 tahun itu yang terus menatapku tajam. Jantungku seakan berhenti berdetak. Remaja itu menakutkan. Dia tak ubahnya seperti mayat yang butuh pertolongan.
Cukup lama aku membangunkan David. Saat aku mencoba melihat sepupuku itu. Astaga. David tidak ada disebelahku. Kemana dia? Bukankah seharusnya dia masih terbaring di ranjangku? Mataku kembali menatap remaja itu. Hah. Dia juga tidak ada? Hanya bekas rembesan air yang terlihat di bawah jendela. Aku beranjak lalu keluar mencari David. Seluruh ruangan di Villa ini telah ku jajaki. Namun hasilnya Nihil. David tidak ada? Kemana dia? Kenapa aku ditinggal sendiri.

***
Aku menghubungi nomor David. Tidak aktif. Aku menelfon rumah paman Renhart. Tidak ada yang menyahut. Aku semakin merasa kacau. Di sabotase? Oleh siapa? Apa mungkin remaja itu? Aku menutup gagang telefon. Aku belari menuju lantai tiga, aku ingin mengambil sweaterku. Saat membuka pintu kamar…
“ Astagah?!” teriakku setengah mati. Tidak percaya dengan apa yang sedang aku lihat.
Remaja yang tadi duduk dibawah jendela kamarku kini telah berdiri dengan kaku dan membisu. Rambutnya basah. Pipinya berdarah. Bibirnya pucat kering. Remaja itu telanjang sehingga dengan jelas aku melihat kemaluannya. Matanya pendar menatapku. Seketika angin datang dan menyeruak aroma amis di susul bau bangkai yang bacin. Remaja itu mendekatiku dengan kedua tangannya yang hendak mencekik leherku. Sontak aku panik. Tanpa banyak berfikir aku langsung berlari meninggalkannya. Aku melewati koridor menuruni tangga menuju lantai dua. Berlari lagi menuruni tangga menuju lantai satu. Nafasku terengah-engah. Aku berhenti sejenak. Kutatap balkon lantai tiga. Remaja itu tersenyum padaku. Dalam sekejap mata dia menghilang.
Aku duduk di ujung anak tangga seraya mengatur pernafasan. Memikirkan apa yang sedang kualami barusan. Apa di Villa ini ada hantunya? Tapi, David kemana? Belum habis fikir benakku dengan pertanyaan yang datang bertubi-tubi. Seketika bulu kudukku merinding. Bau amis dan busuk itu kembali menyeruak hidungku. Angin berhembus dari sebelah kiriku. Tiba-tiba serasa ada orang yang duduk disampingku. Perlahan aku melengosnya. Dan…
“ Aaaaarrggh.” Dia lagi. Remaja itu duduk disebelahku dengan pandangan menatap pintu utama. Dia membisu. Aku harus pergi. Entah mengapa lidahku kelu. Badanku susah di gerakkan. Aku mencoba beringsut berdiri. Baru selangkah aku berjalan.
Tappp. Aku ketakutan. Keringat dingin merembes tanpa henti.
Tangan kasar dan dingin, berair, menggenggam erat kaki kananku. Aku semakin merinding. Perlahan kuku tajam melukai betisku. Aku berontak melepas cengkraman remaja itu. Ku hentak kaki ini tetapi tangannya semakin kuat mencengkram. Dalam hati aku berdoa. Agar Tuhan menolongku. Saat itu juga ia melepas kakiku. Aku berlari dan membuka pintu utama. Ku tatap sejenak remaja yang duduk membatu itu. Matanya menatapku penuh arti. Aku tidak peduli. Aku harus keluar dari Villa ini.

***
Jalan aspal terbentang tanpa ujung di kelilingi hutan Redwood. Aku berjalan seorang diri. Hanya mengenakan piyama. Tanpa menggunakan alas kaki. Luka akibat cengkraman itu membuat betisku nyeri. Udara dingin menusuk daging dan tulangku. Perutku perih. Kepalaku pusing. Badanku oyong dan lunglai. Di depan sana mataku samar-samar menatap cahaya kendaraan yang menuju kearahaku. Ada secercah harapan. Aku melambaikan tangan berharap kendaraan itu berhenti dan memberiku tumpangan. Nihil. Mobil itu melintas. Tanpa sengaja mataku menatap penumpang yang ada di dalamnya. Astaga. Lagi-lagi aku terkejut. Remaja itu duduk di kursi belakang dengan menatapku tersenyum. Mobil itu berlalu. Lalu, hilang di balik jalanan yang menurun. Aku mengatur pernafasan.
Duaaaarrrr. Jantungku berdegup kencang mendengar suara dentuman di ujung jalan sana. Api meluap. Mobil itu meledak lalu terpelanting dan kurasa terjerembab masuk kedalam danau di depan Villa kami. Tak kusangka kepingan kerangka mobil itu melayang dan sukses menghantam badanku dan membuatku terpelanting puluhan mill. Aku tak sadarkan diri.

***
Gelap. Pengap. Dingin. Basah. Dan apalah namanya.
Saat mataku terbuka. Aku berada di sebuah kamar yang tidak aku kenal. Lelaki berusia dua puluh tiga tahun tersenyum padaku. Dia memberiku secangkir coklat panas dan meletakkannya di meja.
“ Minumlah, itu akan membantu memulihkan tenagamu.” Desisnya.
“ Aku dimana?”seketika kulihat lelaki itu menyatukan alis yang kutangkap artinya heran.
“ Ini rumah kita.”
“ Rumah kita? Kamu siapa?”
“ Hei, ada apa denganmu Albert? Apa karena tertimpa kayu itu kamu jadi amnesia? Jangan bercanda ahh. Tidak lucu.” kelakarnya di sertai tawa.
“ Serius. Aku tidak tahu siapa kamu? Namaku Tom. Bukan Albert.” Kilahku.
“ Ya. Memang benar, namamu itu Tom. Tapi aku memanggilmu Albert. Karena nama panjangmu Albert Tommy Rudolf. Aku Delon. Kakakmu. Apa kamu sama sekali tidak mengingatku?” tanyanya heran disertai raut wajah yang tampak kebingunan. Aku menggelengkan kepalaku. Lelaki yang mengaku Delon itu duduk disudut ranjangku.
“ Istirahatlah.” Lirihnya kemudian keluar dari kamar sederhana ini. Aku melihat dari jendela, Delon membawa kapak dan masuk kedalam hutan. Kepalaku terasa pusing. Entah kejadian apa lagi yang akan datang menghampiriku. Ku raih cangkir itu, dan menyeruput seteguk coklat panas buatan Delon. Enak. Tapi jujur. Aku semakin pusing dan merasa aku tidak waras. Namaku bukan seperti yang disebutkan Delon. Namaku Michael Tom Achuleta. Aneh bukan?
***
Malam ini adalah malam ketujuh aku tinggal bersama Delon. Di kamar sederhana ini aku menulis cerita tentang Delon yang kesepian. Sendiri. Dan sebatang kara. Kreekk. Pintu kamar terbuka. Aku melihatnya tersenyum lalu masuk menghampiriku.
“ Kau menulis apa?” selidiknya.
“ Umm..tidak ada. Hanya coretan biasa.”
“ Kau pasti berbohong.” Dengusnya seraya berusaha mengambil catatanku itu.
“ Jangan Delon, itu bukan untuk dibaca kamu.”
“ Biarin, aku mau melihatnya.” Tukasnya dan terus berusaha menggapai dari balik punggungku.
“ Jangan..”
“ Albert, aku mau melihatnya. Sebentar saja, aku hanya ingin mengetahui isinya. Boleh yah?” ujarnya memelas. “ Tidak boleh.”
Dooor. Dooorrr. Terdengar suara tembakan menghantam pintu. Sontak Delon memelukku dan menindih lalu mengarahkanku menuju balik sofa di depan tungku penghangat ruangan.
“ Mereka sudah datang.” Lirihnya.
“ Siapa?” bisikku ketakukan.
“ Mereka adalah orang yang ingin membunuh kita.”
“ Membunuh kita? Kenapa?”
“ Sudah jangan banyak bertanya. Nanti aku jelaskan.”
Aku dan Delon lari melewati pintu belakang. Kami menyusuri hutan. Di tepi sebuah danau kami berhenti. Empat orang lelaki dengan laras panjang menghadang kami di belakang. Aku ketakutan.
“ Delon dan Albert. Bagaimana kabar kalian?” desis lelaki dengan tatapan mata ular.
“ Kalian mau apa lagi?” bentak Delon.
“ Serahkan dia kepadaku.”
“ Tidak. Tidak akan. Dia adikku.”
“ Serahkan atau aku menembakmu.”
“ Tidak akan pernah!”
“ Kamu mau melawanku? Serahkan atau aku benar-benar membunuhmu.”
“ Kau boleh membunuhku, tapi jangan merebut Albert dariku.”
“ Ah bedebah. Tembak dia!”
Dorrr. Dorrr. Suara tembakan menggema di tengah hutan. Delon terkapar penuh luka. Seorang lelaki menyeretku dengan paksa, aku coba melepas. Mungkin karena aku terus berontak lelaki itu marah, kemudian menamparku.
“ Diam.” Dengusnya kesal. Kemudian mereka membawaku. Saat hendak masuk kedalam Jeep hitam, aku lari dan menyelamatkan diri. Mereka mengejarku. Tanpa pikir panjang aku menuju bangunan yang belum sempurna berdiri didepan danau ini. Aku masuk kedalam basemen. Tanpa kusangka mereka menemukanku. Aku berontak menghindar. Lelaki bertopi miring itu berusaha menangkapku. Aku menendang kemaluannya. Dia kelimpungan. Aku lari menuju lorong baseman.
Dooorrr. Seketika aku susah bernafas. Dada dan perutku nyeri. Aku jatuh tersungkur.
“ Goblok. Kenapa kau tembak dia?” tukas lelaki yang aku rasa adalah pemimpin mereka.
“ Sa-saya tidak sengaja Boss.” Samar-samar aku tidak lagi mendengar suara. Darah amis mengucur. Sesaat kemudian mereka mendekatiku. Seseorang menendang perutku. Aku nyaris tak sadarkan diri. Lalu mereka membopong dan membawaku entah kemana. Di dekat pintu basemen. Kupaksa membuka mata ini, sekedar melihat keadaan. Dan…
Byuuurrr. Mereka memasukkanku kedalam sebuah sumur? Ya. Aku di ceburkan kedalam sumur. Gelap. Pengap. Sepertinya aku akan mati ketika sebuah benda bulat dan keras menimpa kepalaku. Pintu sumur itu mereka tutup. Aku masih bisa bernafas dan sisa udara meski aku gelagepan. Aku terus berontak untuk melepas tali yang melilit di batu. Aku tenggelam di dasar sumur. Lalu….
Semua hening.

***
Hening. Legang. Tidak ada suara. Tidak ada angin. Tidak ada kehidupan?
Aku susah bernafas dan sesak karena masih gelagapan. Mataku menangkap cahaya di atas sana. Dan…
“ Haaaaahhh.” Aku seperti orang yang muncul dari dasar laut. Nafasku tersengal-sengal. Saat mataku terbuka dengan sempurna cahaya matahari langsung menyerang. Silau. Seseorang berdiri disebelaku.
“ Bibi Di?” tanyaku terkejut.
“ Yang lainnya sedang menungumu. Ayo kita sarapan.” sahutnya membuatku heran.
“ Sejak kapan aku tertidur dikursi ini?”
“ Aku rasa dua puluh menit yang lalu. Kamu sepertinya terlalu lelah dalam perjalanan hari ini. Pakaianmu sudah aku masukkan kedalam lemari. Sekarang ayo sarapan. kamu tidak ingin mereka kelaparan karena terlalu lama menunggumu ‘kan?”
Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Ternyata aku bermimpi. Bibi Di tersenyum seraya mengelus pundakku.
“ Tidak baik membaca catatan orang yang sudah meninggal.” Bisik bibi Di kemudian ia berlalu. Aku duduk termangu. Didepan pintu bibi Di tersenyum, lalu mengedipkan mata.

***
Malam ini aku duduk didepan meja persegi. Membaca lanjutan diary Albert yang penuh misteri. Ternyata Albert adalah adik Delon yang tewas dan terkubur didalam sumur basemen Villa ini. Mereka kabur dari rumah karena ayah Delon tidak ingin Albert mengikuti jejak kakaknya yang arogan dan suka memberontak. Villa ini dulunya adalah milik keluarga Albert. Sudah empat keluarga yang membelinya. Dan kami adalah keluarga terakhir yang menempatinya dari tahun 2009 hingga sekarang. Sedang asyiknya aku membaca, tiba-tiba hidungku mencium aroma busuk. Angin malam membuatku merinding. Jendela kamarku terbuka. Aku terkejut. Delon berdiri di tepi jendela dengan tatapan marah. Ia mengacungkan tangan melihatku kesal. Seperti ada sesal dan kecewa yang mendalam karena aku di terkesan melupakannya. Dorrr. Sebuah peluru menembus dadaku.
-END-

sumber : http://cerpenmu.com/

Thursday, 11 December 2014

Cerpen Hujan dan Payung Kuning PART 2


pengarang : Lola Febrianti

"Namanya Vaness Raini, matanya bulat seperti bulan, senyumnya indah seperti Pelangi, dan suaranya menyejukkan seperti hujan. Mungkin dia menungguku dihalte yang lalu untuk mengembalikan payung kuning yang aku pinjamkan, jika dia membuka payung itu,didalamnya ada foto kita berdua dan ada pesan dibelakang foto itu. Aku yakin dia pasti membacanya. Nicko, aku ingin kamu menjaganya jika aku pergi nanti. 
Buatlah Vaness selalu tersenyum" Itulah kata-kata terakhir Nicky yang ia sampaikan pada Nicko.

***
            “Vaness,ayo ikut aku !” Tanpa memberikanku kesempatan untuk berbicara, Nicko menarik tanganku lalu membukakan pintu mobilnya. Aku pun masuk,aku lihat ada bingkisan Mawar Putih dikursi belakang. “Kita mau pergi kemana ?” Tanyaku, tapi Nicko hanya tersenyum tanpa jawaban. Mobil pun berhenti didepan sebuah gerbang. Kami pun turun dan masuk ke gerbang tersebut. Hamparan rumput hijau berhias batu nisan menyambut kedatangan Kami. Nicko menarik tanganku lalu berhenti disebuah Nisan. “ini makam Nicky ?”. “Iya, kamu tidak keberatan kan aku bawa kesini ?” tanya Nicko, Aku menggelengkan kepalaku sambil tersenyum. Nicko meletakkan Mawar Putih di nisan Nicky. “Nicky sangat menyukai Mawar Putih” ujar Nicko tapi aku tidak menghiraukannya, aku hanya menatap batu nisan itu dengan tatapan sedih. “Sebenarnya apa yang kamu rasakan terhadap Nicky ?” Tanya Nicko. “Apa aku harus menjawabnya ?” . “Terserah”jawab Nicko . “Aku juga tidak tau apa yang aku rasakan, Aku dan dia hanya bertemu beberapa hari dan kami juga tidak saling kenal saat itu, tapi aku merasa kehilangan dirinya” Jawabku sambil mengelus batu Nisan Nicky . “Sebelum Nicky meninggal, ia menyuruhku untuk menjagamu” . “Lalu ?”tanyaku. Nicko menatap ku “Izinkan aku untuk menjalankan pesan dari Nicky”. “Kamu tidak perlu menatapku seperti itu, tanpa kamu katakan. Aku sudah menganggapmu sebagai teman” jawabku disertai dengan senyuman. “Aku akan berusaha membuatmu selalu tersenyum. Jika kamu bahagia, Nicky pasti juga Bahagia disana” . “Aamiin” 
***
            Menit demi menit, Jam demi Jam, Hari demi Hari kami lewati bersama. Canda Tawa, keriangan, senyum Bahagia selalu terukir diantara kami. Bagaikan hidup tanpa beban kami jalani bersama. Awalnya aku merasa kehilangan seorang Nicky, tapi Nicko menghapus rasa sedih itu secara perlahan. Nicko mengajakku jalan-jalan dengan sepeda. Lalu kami berhenti disebuah padang ilalang yang tingginya hampir sama dengan tubuhku. “Ayo..!!” Ajak Nicko. “Ayo kemana ?” tanyaku heran. “Masuk kedalam ilalang itu” aku terkejut, sebenarnya apa yang Nicko maksudkan, aku pun menolak ajakannya tapi dia menarik tangannku masuk ke padang ilalang itu. “Nicko, kamu mau apa ? Kamu jangan macam-macam” Nicko tidak menghiraukan perkataanku “Nicko, badanku sakit semua terkena ilalang ini” Nicko menatapku, tanpa mengatakan apa-apa dia menutup mata dan mulutku dengan tangannya.Aku benar-benar takut saat itu. Tak lama kemudian Nicko membuka mata dan Mulutku.Aku benar-benar ingin menghajar Nicko karena perlakuannya itu. Tapi semua itu urung aku lakukan ketika melihat yang ada di depan ku “Subhannallah” Hanya kata itu yang bisa aku ucapkan ketika melihat pemandangan yang benar-benar indah dihadapanku. Sebuah Danau yang jernih, dikelilingi oleh bunga-bunga yang sangat indah dengan warna-warna yang bermacam, Kupu-kupu dan capung berterbangan dengan damainya. Aku tidak pernah melihat pemandangan seindah itu sebelumnya. “Bagaimana ? Apakah ini indah ?” Tanya Nicko. Aku memeluknya lalu air mata jatuh dipipiku. “Loh,kamu kenapa menangis ?” . “Aku benar-benar kagum dengan Tuhan, ia menciptakan tempat seindah ini. Keindahan ini benar-benar membuatku terharu” jawabku. “Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa kesabaran pasti akan berujung dengan indah”. “Maksud kamu ?”. “Ilalang yang kita lewati tadi ibaratkan ujian hidup, ilalang itu membuat badan kita sakit, begitu juga dengan ujian hidup. Tapi jika kita bersabar melewati nya, maka keindahan seperti inilah yang akan kita dapatkan, bagaikan kado dari tuhan”. Aku tersentuh mendengar perkataan Nicko “Tuhan,terimakasih engkau sudah mengirimkanku seorang malaikat kebahagiaan untukku”.
            Memandangi senja dipinggir danau dengan bunga-bunga yang indah ditemani kupu-kupu dan para capung benar-benar membuat hatiku damai. Nicko mengeluarkan gitar dari tas gitarnya yang memang ia bawa. “Mau mendengarkan lagu ?” Tanya Nicko . “Tentu !!” . “Mau lagu apa ?” Tanya Nicko lagi . “Terserah kamu” . “Baiklah” Nicko pun mulai memainkan gitarnya.

“Seanggun warna senja menyapa
Bersambut musim yang dijalani
Semegah bintang penuh harapan
Mencoba 'tuk terangi
Dalam gelapnya malam

Ungkapanku untuknya
Untuk seorang wanita
Yang kupuja dan kupuji
Takkan kurasa jenuh
Dirinya di hatiku
Reff:
Parasnya sungguh indah sekali
Menggugah rasa tuk ingin
Selalu bersamanya
Senyumnya menggetarkan jiwaku
Meresap indah dalam alunan
Syair laguku”

            Lagu yang dibawakan Nicko membuatku merasa istimewa. “Dia benar-benar pandai mengambil hati wanita.Sepertinya hatiku pun sudah jatuh cinta padanya” Batinku. “Bagaimana ? Kamu suka ?” Tanya Nicko . “Aku sangat suka”.
***
            “Sepertinya aku harus mengatakannya” Ujar batin Nicko. Nicko pun mencari nomor Vaness dan menelponnya “Aku tunggu kamu didanau” Nicko pun mematikan telponnya. Jam menunjukkan pukul 08.13 “Kenapa pagi-pagi seperti ini ??” ujarku dalam hati. Tapi Aku tidak ingin membuat Nicko menunggu lama, aku membuka lemari pakaianku dan memilih pakaian yang terbaik untuk bertemu dengan Nicko.

Setelah selesai aku segera pergi ke danau. Huh,aku harus melewati ilalang-ilalang ini lagigerutuku, tapi aku ingat kata-kata Nicko untuk senantiasa bersabar. “Demi kamu Nicko !!” Aku pun masuk kepadang ilalang itu. Aku takut tersesat tapi syukurlah itu tidak terjadi. Setelah sampai di danau aku melihat Nicko sedang duduk dibawah pohon yang rindang dengan earphone yang terpasang ditelinganya. Aku ingin mengejutkannya jadi aku berjalan dengan mengendap-endap agar dia tidak menyadari kehadiranku. “Kamu pasti akan terkejut” Aku mengangkat tanganku untuk menepuk bahunya, tapi belum sempat aku lakukan dia malah menoleh kebelakang. “Kamu sedang apa ?” Tanya Nicko yang heran melihat gelagapku. “Kamu kenapa menoleh,padahal aku ingin mengejutkanmu” jawabku sambil duduk disampingnya. “Benarkah ? Kalau begitu lakukanlah sekali lagi maka aku akan pura-pura tidak tau”. “Mana bisa begitu, itu bukan mengejutkan namanya”. Kami pun tertawa bersama. Seharian itu kami habiskan seperti biasa dengan canda tawa dan kebahagiaan tanpa rasa lelah, hingga kami menyadari senja sudah datang. “Terimakasih untuk kebahagiaan hari ini Nicko” ujarku sambil melemparkan batu kedanau. “Sebenarnya ada yang ingin aku berikan padamu” jawab Nicko . “Apa ?” tanyaku penasaran. Nicko pun memberikanku sebuah bingkisan berbentuk persegi panjang. Aku pun membuka bingkisan itu..Bingkisan itu adalah sebuah Lukisan. Aku tertegun melihat lukisan itu, suasana hujan dan ada seorang wanita dan pria dibawah payung kuning sedang berdiri di halte. “Bagaimana ? Kamu suka ?”. “Apa kamu yang melukis ini ?” tanyaku “Itu adalah lukisan yang dibuat Nicky. Tapi belum sempat ia menyelesaikan lukisan ini, dia sudah pergi. Jadi separuhnya aku yang menyelesaikan” jelas Nicko. “Itu adalah gambaran pertemuan kalian” lanjut Nicko. Aku mengelus lukisan itu “Walau wajah kalian sama, tapi bukan berarti aku bisa menganggapmu sebagai Nicky” . “Kau merindukan Nicky ?” Tanya Nicko. Aku hanya menangguk, tanpa aku sadari aku meneteskan air mata. Nicko memelukku dengan hangat. Aku pun melampiaskan kerinduanku dengan menangis dipelukannya. “Nicko, kamu jangan tinggalkan aku. Aku tidak yakin jika aku masih bisa tertawa bahagia jika tidak ada kamu” ucap ku sambil menangis. Nicko menyeka air mata dipipiku. “Apa kamu ingat perkataanku tentang kesabaran ?” Tanya Nicko. Aku mengangguk. “Kamu harus bersabar” lanjut Nicko. “Bersabar untuk apa ?” tanyaku. “Bersabar untuk menjalani hidup” . “Tentu saja aku akan bersabar,karena katamu kesabaran akan berujung dengan keindahan. Aku benar-benar menyayangaimu. Hatiku telah jatuh cinta padamu Nicko” ujarku. “Aku akan pindah ke Amerika”. Perkataan Nicko bagaikan petir disiang hari. Tapi aku tidak mempercayai itu. “Kamu ini,suasana sedang haru seperti ini kau malah bercanda”. Nicko mengambil selembar kertas dari saku celananya, dia memperlihatkan kertas itu padaku. Itu adalah tiket penerbangan ke Amerika. “Maafkan aku Vaness. Aku mengingkari perkataanku dan juga janjiku pada Nicky”. Aku melepaskan pelukan Nicko “Ka..kamu serius ?” . “Orang tua ku pindah tugas kesana,jadi aku harus ikut”.
Aku tidak bisa menahan air mataku mendengar perkataan Nicko. Bagaimana bisa ia melakukan itu. Aku tidak bisa membendung airmataku,airmataku pun tumpah dalam tangisan. Nicko menggenggam tanganku dan berusaha menenangkan diriku. “Bagaimana mungkin kamu pergi meninggalkanku setelah aku mengungkapkan perasaanku padamu” aku memberontak berusaha melepaskan genggaman Nicko. “Vaness dengarkan aku !!” teriak Nicko, aku pun terdiam. “Apa kamu pikir aku bisa meninggalkanmu dan kenangan-kenangan yang kita buat ? Jika aku bisa menolak ini, aku akan menolaknya. Tapi aku tidak bisa Vaness !!” Untuk pertama kalinya aku melihat Nicko meneteskan air matanya. Nicko memelukku “Aku ingin kamu tau,aku juga sangat mencintaimu Vaness” Aku terdiam mendengar perkataan Nicko. Kenapa ? Kenapa harus seperti ini? kenapa Tuhan memisahkan aku dengan orang-orang yang kusayangi. Apa maksudnya ? Aku bisa menerima kehilangan Nicky karena ada kamu yang menggantikan posisinya. Tapi kini,kenapa kamu harus meninggalkanku juga ? Ini tidak adil untukku” Aku menangis tersedu-sedu dalam pelukan Nicko. “Bukankah sudah ku bilang, kamu harus bersabar dalam menjalani hidup ini. Jika kita memang ditakdirkan bersama, maka kita akan bersatu kembali. Yakinlah Vaness” Ucap Nicko.

***

Sebulan sudah Nicko pergi meninggalkan Indonesia. Meninggalkanku dan kenangan-kenangan indah yang telah kami buat. Aku berkunjung kemakam Nicky, aku meletakkan Mawar Putih kesukaannya di batu nisan.
“Apa kabar Nicky ? Lihat ini, aku membawa payung kuningmu, apa kamu merindukan payung ini ? Kamu ingat tidak saat pertama kali kita bertemu ? Hujan, Halte dan payung ini menjadi saksi pertemuan kita. Aku sangat merindukan pemilik payung ini dan kembarannya”.
            
Mungkin memang bukan takdirku untuk bisa bersama diantara kalian. Awalnya aku sangka Tuhan tidak adil denganku. Tapi, aku sadar Tuhan ingin melatihku menjadi wanita yang kuat, sabar dan tegar dalam menjalani Hidup ini. Aku tidak akan melupakan kalian. Kenangan-kenangan indah di masa lalu adalah tempat yang paling indah untuk dikunjung. Tapi aku sadar, itu bukanlah sebuah tempat yg bagus untuk ditinggali. Aku akan membuka lembaran baruku. Terimakasih Nicky, Terimakasih Nicko. Sudah hadir dihidupku.” 

-THE END-